You’re My All In All!


Apa bedanya cinta insani (manusia) dengan cinta Ilahi? Cinta insani sering kali bersifat pamrih: “Saya berbuat baik, maka saya (berharap) mendapatkan kebaikan juga dalam hidup saya!” Dalam keseharian, banyak orang bekerja sekadar untuk mendapatkan upah, gaji, atau bonus dari pekerjaannya. Orang jadi lupa apa yang disebut pelayanan dan pengabdian, ketika sebuah dedikasi tidak selalu diukur dengan uang dan materi.


Dalam hubungan berkeluarga, kita sering mendengar jargon yang cukup populer: “Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang!” Singkatnya, kita mengasihi jika hal itu menguntungkan, jika tidak, nanti dulu! Dengan demikian, kasih kita sesungguhnya patut dipertanyakan. Sungguhkah penghayatan ini cukup tepat dipandang dalam ajaran Kristiani?


Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus dengan puitis menggambarkan: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Lebih dari itu, Yesus sendiri yang berkorban sehabis-habisnya dalam hidup, karya pelayanan, sengsara, wafat hingga bangkit menunjukkan kasih yang tak terbatas dan tidak mencari keuntungan, semata-mata demi mewujudkan cinta Allah.


Mungkin landasan inilah yang mendorong sekian banyak orang kudus mewujudkan hidup dalam pengorbanan bahkan penderitaan. St. Ignatius Loyola menghayati hidup sebagai “Prajurit Allah” yang sejati, mengabdikan diri dalam pelayanan dan pendidikan serta pendalaman hidup rohani yang termeteraikan dalam motto-nya yang selalu didengungkan: “Ad Maiorem Dei Gloriam!” (Demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan). Sosok St. Yohanes Maria Vianney dengan puitis menegaskan kasih pada Tuhan dengan kesediaan untuk berkorban bahkan menderita. Ia menyatakan: “Allahku, berilah padaku rahmat agar boleh menderita karena mencintai-Mu. Berilah aku rahmat untuk mencintai-Mu dalam menderita, untuk pada suatu saat menarik nafasku yang terakhir dalam mencintai-Mu, dan dalam merasakan bahwa aku mencintaiMu.” Selanjutnya, St. Yohanes Paulus II juga menujukkan totalitas pengabdian dan pelayanannya sebagai seorang Gembala Gereja yang menyerukan perdamaian, dialog, dan persaudaraan dengan segala bangsa. Spiritnya “Totus tuus” (Segalanya untuk-Mu) menunjukkan kerendahan hatinya sebagai alat Tuhan mengasihi sesama.


Tapi itu semua ‘kan orang kudus, kita hanya manusia biasa, “penuh dosa”! Tunggu dulu, ada sekian tindakan kasih dan pemberian diri yang sesungguhnya sudah kita wujudkan. Seorang ibu yang “menderita” selama 9 bulan mengandung sang anak akan melupakan semua rasa sakit dan kesusahannya ketika sang anak lahir sehat. Seorang ayah yang “banting tulang” bekerja demi masa depan keluarganya, tak akan kehilangan cintanya ketika sang anak membantah nasihatnya dan tetap berusaha mendidiknya. Seorang nakes (tenaga kesehatan) atau tentara rela meninggalkan kelurganya untuk menjalankan pengabdian pada sekian banyak orang yang mungkin tak dikenalnya dengan segala resiko yang ada. Singkatnya, ketika kita menjalani peran dengan sepenuh hati dan menyerahkannya pada Tuhan, berarti kita sedang mewujudkan kasih-Nya itu. “Orang bisa memberi tanpa kasih, tapi tiada orang yang bisa mengasihi tanpa memberi!” Sudahkah aku memberikan seluruh hidupku untuk-Nya? God, You’re my all in all!




-RP. Eduard S. Da Silva, OFM-