Terang Kristus Dalam Kegelapan Para Murid

Diperbarui: 30 Apr 2019


Gambar: http://www1.cbn.com

Sebelum membaca renungan ini, saya mengajak anda semua untuk memejamkan kedua mata. Pejamkanlah 2-3 menit. Cobalah bayangkan dan rasakan kegelapan yang meliputi mata anda!


Suatu waktu saya melayani salah satu umat di wilayah pedalaman. Desa itu belum memiliki sumber daya listrik. Satu-satunya sumber listrik yang dapat digunakan bersama adalah PLTA milik paroki. Banyak persoalan yang dihadapi dengan PLTA itu, mulai dari debit air sungai yang kurang, sumbatan sampah di pipa turbin, hingga turbin yang seringkali bermasalah. Suatu hari, persoalan PLTA tidak dapat diselesaikan, jadi konsekuensinya adalah bahwa beberapa hari ke depan tidak ada listrik yang dapat digunakan. Malam sungguh gelap, tidak ada cahaya lampu satupun di desa itu. Pada akhirnya setelah berusaha penuh, PLTA dapat berfungsi kembali. Kebetulan saya mendapatkan tugas untuk menyalakan aliran listrik dari gardu ke seluruh rumah warga desa. Ketika saya menyalakan tuas untuk mengalirkan listrik itu, saya melihat suatu peristiwa yang amat membahagiakan. Dari bukit tinggi itu, saya melihat cahaya satu persatu menyala dari rumah warga desa itu. Kegelapan desa malam itu berubah menjadi terang cahaya lampu yang mempesona.


Kegelapan yang saya dan anda rasakan juga dialami oleh para murid Yesus. Bacaan-bacaan pada hari Minggu Paskah II ini, mengisahkan kegelapan itu dengan sangat jelas. “Ketika hari sudah malam, pada hari pertama minggu itu, berkumpulah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi” (Yoh 20:19). Kegelapan para murid itu diungkapkan dengan kata malam, pintu terkunci, dan perasaan takut.

Ketiga kata itu menggambarkan suasana kegelapan yang dialami oleh para murid. Mereka mengalami kegelapan karena ditinggal oleh Sang Guru yaitu Yesus. Para murid juga merasa takut dituduh oleh orang-orang Yahudi sehingga mereka mengunci pintu rapat-rapat. Namun, Injil Yohanes tidak berhenti pada kisah kegelapan yang dialami oleh para murid. Dalam situasi kegelapan itu, Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, damai sejahtera bagi kamu. Setelah Yesus hadir dihadapan para murid, mereka mengalami sukacita dan menerima Roh Kudus.


Terkadang kita pun mengalamai situasi kegelapan seperti para murid. Kita merasa ditinggalkan oleh Tuhan Yesus, merasa kecewa pada Tuhan, kita takut untuk bersaksi di tengah masyarakat, atau malah kita sebenarnya tinggal dalam kegelapan dosa yang amat berat. Kegelapan itu diam-diam menyelimuti dan membutakan mata hati kita pada kehadiran Allah. Kita percaya bahwa Yesus yang bangkit adalah Yesus yang hadir kepada kita masing-masing. Yesus membawa sukacita bagi hati kita. Kehadiran Yesus yang adalah terang membuat kita mengalami sukacita sejati. Pada akhirnya kita tidak lagi tinggal dalam kegelapan melainkan tinggal dalam Roh Kudus.


Pertanyaan penting yang menjadi refleksi adalah bagaimana kita semua mampu untuk menyadari kehadiran Allah dalam setiap perisitiwa hidup sehari-hari?


Pada zaman ini, godaan akibat perkembangan dunia apalagi teknologi informasi dan komunikasi membuat orang sibuk dengan dirinya sendiri. Akibatnya, kini orang sulit melihat kehadiran atau mukzijat Allah dalam hidup sehari-hari.


Bacaan pertama dan kedua membantu kita untuk semakin percaya pada Allah. Kepercayaan itu menjadi terang yang mendorong kita semua untuk tidak sibuk dengan diri sendiri, melainkan membuka kunci pintu serta keluar dari diri untuk mewartaan kabar sukacita melalui persaudaraan kasih.



Tuhan memberkati.

Fr. Andreas Subekti

copyright parokivianney.org

Managed by