Surat Keluarga Januari 2017

Diperbarui: 4 Mei 2019


Gambar: https://liturgyguy.com/

HIDUP YANG ADIL DAN BERADAB MENURUT HUKUM KRISTUS


Selamat Tahun Baru 2017

Keluarga-keluarga yang terkasih, setiap kita berada dalam keluarga, tempat pertama kali merasakan pengalaman hidup di dunia ini. Pengalaman hidup di dunia berasal dari interaksi antara anggota keluarga dengan sesamanya. interaksi berarti setiap tindakan dan perkataan kita yang berkaitan dengan orang-orang di sekitar kita. dalam keluarga interaksi terjadi dalama rupa rupa peristiwa, mulai dari ringan sampai peristiwa berat yang bisa amat mempengaruhi kehidupan kita di masa sesudahnya


Hidup yang adil dan beradab itu tercipta dari setiap individu yang saling berinteraksi dan berkomunikasi. pengalaman interaksi dan komunikasi itulah seluruh keluarga kita menjadi baik dan sehat dalam hidup sosialnya di masyarakat. Pengalaman keluarga sungguh miniatur yang akan mencetak gaya hidup dan sikap yang kemudian dilakukan oleh seseorang dalam hidup bermasyarakat.


_Yesaya 56:1_ mengatakan: Beginilah firman TUHAN: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. Benarlah bahwa orang-orang yang menyembah Tuhan akan menegakkan keadilan sebagai bukti bahwa ia mencintai Tuhan. Setiap orang harus membuktikan bahwa perkataan Tuhan benar dan kehendak ini harus terlaksana dalam keluarga kita


Sejak jaman Perjanjian Lama, Allah selalu meneguhkan hidup manusia melalui pengalaman hidup berkeluarga. Allah bahkan hadir dalam pengalaman setiap keluarga. Allah memberi berkat melalui keturunan, rejeki, perkawinan, perlindungan dan janji berkat kepada seluruh keluarga. Lewat itulah Allah dikenal amat dengan dengan kemanusiaan dan keadilan-Nya. Allah jadi begitu dekat dan akrab karena adanya peristiwa manusiawi.


Pengalaman manusiawi itulah yang menuntun manusia mengalami Allah. Ia disebut baik karena manusia mengalami kemanusiaan dan keadilan-Nya. Ia bukan Allah yang ditakuti karena kekuasaan-Nya saja tetapi juga dikagumi karena bukti cinta-Nya yang _membumi_ dan dirasakan oleh manusia. Jadi kebaikan dalam hidup beriman itu harus muncul dan terbukti nyata dalam keseharian.


Melalui peristiwa Yesus yang menjadi manusia, kita mengalami Allah yang berpihak pada nasib kita secara manusiawi. Allah yang bertubuh dan berpengalaman manusiawi meneguhkan kita bahwa ia, Yesus yang menjadi Kristus mewujudkan jalan keselamatan dengan cara yang mudah dimengerti dan dialami semua umat-Nya melalui jalan hidup, perjuangan, dan pengorbanan-Nya bagi kita semua.


Bagi seorang pengikut Kristus, sikap manusiawi muncul dari kemauan untuk memahami orang-orang yang tinggal bersamanya. Seorang yang manusiawi akan mudah memahami orang lain dan hidup dalam damai bersama. Ayah yang baik, misalnya akan memahami anak-anaknya seiring usianya. Seorang ayah akan membantu anak-anak bertumbuh dengan pertama menjadi pasangan yang baik bagi Istrinya yang menjadi ibu di rumah. Selanjutnya ia menjadi pribadi yang patut dicintai bagi anak-anaknya. Demikian juga seorang ibu yang baik akan bersikap melalui peran sebagai ibu yang penuh kasih dan istri yang bijaksana.


Ayah dan ibu yang baik tidak berpihak pada anak tertentu tetapi memberi perhatian pada semua anak dengan adil. _Keadilan_ pertama akan dialami anak sebagai keadilan dunia ini sehingga seorang anak akan lebih mudah memahami keadilan Tuhan di dunia ini. Betapa indahnya!  Pengalaman baik dan pikiran positif berasal dari pengalaman yang sangat _manusiawi_ yang kelak akan diteruskan oleh seseorang sebagai _keyakinan_ atau “_belief_” yang mendasari setiap perbuatan dan jalan pikirannya. Inilah yang membuat dunia menjadi indah. Semakin banyak orang mengalami keadilan di dalam keluarga, semakin baik ia memandang dunia ini.


Mazmur dibuka dengan sebuah keyakinan bahwa orang yang baik berjalan dari pengalaman yang baik dan akan mengantarnya pada hasil yang baik. Mazmur 1;1-3 mengatakan “_Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; __apa saja yang diperbuatnya berhasil_.”


Semoga renungan ini semakin meneguhkan kita semua bahwa kemanusiaan berbalut keadilan akan berbuah sukacita. Yakinlah Tuhan memberkati kita dan keluarga yang menjalani hidup dalam kedua jalan itu. Berkat itu yang akan menjadikan kita anggota masyarakat yang “memberkati” sesama dengan sikap dan sifat yang lebih baik setiap hari. Amin



_SALAM KELUARGA KUDUS_

Alexander Erwin MSF Komisi Kerasulan Keluarga KAJ

copyright parokivianney.org

Managed by