Surat Keluarga Desember 2016 – Bekal di Punggung Keledai Natal

Diperbarui: 4 Mei 2019


Gambar: http://www.sesawi.net/

Berjalan bersama itu menyenangkan

Meski jalan tidak selalu datar dan sejuk

Keindahan bukan di luar diriku

Karena aku menemukan terang bersamamu


Pasanganku, anak-anakku, kalian adalah bekal

Yang memampukanku terus berjuang

Tidak sendirian dan tidak kesepian

Sebab Allah berada ketika kita berdoa bersama


Semoga keledai tidak cepat lelah

Karena kami selalu bahagia menuju tempat istimewa

Tempat Tuhan menyamankan hati kami

Tempat Ia tampak jelas dan memberkati


Keluarga-keluarga Katolik yang terkasih, sampailah kita di penghujung tahun 2016. Seperti tahun-tahun sebelumnya, masa berganti seolah berkejaran dengan harapan kita untuk menikmati hidup bersama keluarga kita. Banyak target yang kita harapkan. Banyak telah kita kerjakan, tetapi tidak sedikit yang barangkali justru kurang fokus pada hal yang terpenting bagi keluarga. Kita seperti belari terlalu kencang, sehingga usia mengejar dan kita merasa hilang bersama orang-orang yang kita kasihi.


Bersama Tuhan, kita ingin agar hidup kita menjadi lebih tahan uji dan saling menyayangi. Bekerja giat mencari nafkah tentu pekerjaan amat suci dan baik. Mengembangkan usaha dan meningkatkan karier tentu mempunyai tujuan masa depan. Semua orang berkejaran untuk dapat memperoleh posisi terbaik yang bisa mereka lakukan sekarang ini demi masa depan anak cucu. Seperti sebuah perjalanan yang dilakukan Keluarga Kudus Nazareth, semua orang mengumpulkan bekal untuk perjalanan hidup esok hari.


Apa yang kita peroleh? Sudahkah bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku sudah memperoleh harta terbaikku untuk kasih dan persatuan dalam keluargaku?”. keindahan hidup bukan terletak pada kemampuan mengumpulkan uang, melainkan memanfaatkan seluruh hidup untuk membangun rumah tangga yang penuh damai sejahtera Tuhan. Permenungan itu tidak berlebihan jika kita merindukan rasa damai yang sesungguhnya. Mumpung anak-anak masih dalam bimbingan; mumpung mereka masih berada di rumah bersama; mumpung kita masih diberi waktu untuk mendampingi orang-orang terkasih dalam keluarga kita, kumpulkanlah bekal.


Yusuf dan Maria mendengar bimbingan Tuhan untuk menjalankan hidup keluarganya. Mereka tidak lupa bertanya dalam doa, melakukan perintah-Nya, dan setia pada petunjuk Tuhan selama hidup mereka. Mereka tetap manusia. Ke mana mana berjalan dengan mengendarai keledai: lambat, tapi pasti sampai tujuan. Mereka pasti membawa bekal makanan, minuman dan tenaga. Tetapi perasan sukacita menjadi bekal sepanjang jalan Keluarga Kudus ini. Bekal ini membuat karya Allah menjadi sempurna. Sebagai manusia, mereka bekerjasama dengan Tuhan untuk mencari keselamatan dunia ini.


Keluarga-keluarga terkasih, hidup keluarga kita seperti perjalanan keluarga Kudus, Yesus, Maria, dan Yusuf, yang mencari kehendak Tuhan melalui pengalaman hidup mereka bertiga. Mereka tetap mengalami situasi bahagia dan berjuang. Mereka tidak kehilangan jatidiri sebagai manusia meski mengemban tugas surgawi. Jika demikian, maka kita juga boleh merasa dipanggil untuk menjadi manusia dengan segala perjuangan kita. Yang penting bukan meminta kebahagiaan, tetapi memohon kebijaksanaan agar dapat menjalani hidup selalu dengan penuh syukur dan tidak kehilangan perhatian pada orang-orang yang paling penting di dunia ini.


Jika kita tidak lagi kekurangan makan, maka pasti kita bisa kekurangan waktu berkumpul. Jika kita tidak merasa kesulitan bersekolah, pasti kita tetap membutuhkan berdoa bersama. Jika kita merasa kesepian di tengah keramaian, kita perlu kehangatan keluarga kita. Bekal bekal itu sangat sederhana, asal kita mau menyiapkannya. Sebagai keluarga, kita punya pengalaman perjalanan sendiri-sendiri. Jangan sampai ”hilang atau tersesat “di tengah jalan.


Hari hari Adven adalah sebuah perjalanan rohani buat kita sekeluarga. Ada banyak lampu sukacita bisa dinyalakan sambil menunggu lahirnya Sang Juruselamat. Mari menyalakan sukacita bersama pasangan dan anak-anak. Semua diundang untuk bahagia. Semua diundang untuk merayakan hari keluarga. Jangan kumpulkan harta di dunia, sebab ngengat akan menghabiskannya. Kumpulkanlah harta di sorga (bdk.Mat.6:20). Sesuatu yang bersinar gemerlap belum tentu membawa kebahagiaan, sebab keluarga membutuhkan kehangatan dan sukacita yang lahir dari kasih persaudaraan.


Mereka yang hidupnya sederhana bisa lebih bahagia. Mereka yang tidak sempat mengenyam kemewahan bisa lebih bersaudara dan saling menyayangi. Tuhan tinggal di hati mereka yang membela keluarga sebagai karunia terpenting. Tuhan tidak ingin kita sukses, kaya, terkenal, dan lupa. Ia mau semua berjalan beriringan: kesejahteraan, kerja keras, perjuangan, kebersamaan, iman, dan kasih.


“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”(Luk.2:11) Marilah menyambut kehadiran Tuhan dengan bersiap diri, bersama manisnya hidup berkeluarga, bersama orang-orang tercinta, bersama iman, dan bersama kerinduan untuk berbagi kebaikan bagi sesama. Tuhan memberkati. Selamat Natal untuk kita semua!



Salam Keluarga Kudus

Rm.Alexander Erwin MSF Komisi Kerasulan Keluarga KAJ

copyright parokivianney.org

Managed by