Salib Kristus: Belas Kasih yang Berdaya Ubah


Ilustrasi: freepik.com

Salah satu ritus khas Ibadat Jumat Agung adalah adanya prosesi penyembahan Salib. Salib utama diarak dari belakang Gereja dalam keadaan tertutup. Dalam perarakan tersebut, kain penutup satu demi satu mulai dilepaskan sehingga Tubuh Kristus dapat terlihat secara keseluruhan.


Imam atau Diakon mengajak umat untuk melihat dan menyembah-Nya. Salib dibawa ke panti Imam atau diserahkan kepada petugas untuk ditempatkan secara pantas. Selanjutnya, dilakukan penyembahan Salib. Bentuk penyembahan Salib ada berbagai bentuk, misalnya dengan menundukkan kepala, atau berlutut, atau mencium salib. Salib ditinggikan, disembah, dihormati dan dihayati secara mendalam.


Salib merupakan sesuatu yang khas dalam kehidupan iman Katolik, baik tanda salib maupun dalam bentuk barang. Salib menjadi lambang penderitaan Yesus Kristus yang menebus dosa manusia. Pada awalnya, salib merupakan momok atau sesuatu yang menakutkan bagi para penjahat di jaman Yesus. Hukuman salib adalah hukuman yang mengerikan, kejam sekaligus memalukan karena penjahat yang disalibkan akan “dipajang” di bukit sehingga setiap orang yang lewat dapat melihatnya. Para penjahat tersebut akan dibiarkan sampai mati di salib. Oleh karena itu, salib memberikan gambaran yang negatif pada masa Yesus. Namun, wafat Yesus di salib memberikan makna baru bagi hidup manusia.


Dalam iman Kristiani, Salib menjadi lambang pengurbanan Yesus Kristus demi menebus dosa-dosa manusia. Kompendium Katekismus Gereja Katolik art 122 menerangkan bahwa Yesus menyerahkan hidupNya secara bebas sebagai kurban silih, yaitu bahwa Dia telah memulihkan kita dari dosa-dosa kita dengan ketaatan penuh cinta sampai mati. Gereja mengajarkan bahwa Salib Yesus merupakan kerelaan yang mendalam dan penuh cinta dari Yesus. Hal ini berarti bahwa Salib Yesus adalah ungkapan belas kasih Allah yang menginginkan keselamatan bagi manusia. Paus Fransiskus merenungkan salib sebagai keputusan Allah bagi manusia dan segenap dunia karena melalui salib Dia memberikan kepastian kasih dan hidup baru (MV 21). Dalam peristiwa Salib, umat mengalami perasaan dikasihi sebagai orang berdosa dan diberdayakan dengan hidup baru sebagai anak Allah yang ditebus. Belas kasih Allah memberikan daya ubah yang luar biasa bagi hidup manusia. Setiap dari kita ditantang dan diberdayakan untuk berbagi kasih kepada siapa pun, bukan hanya untuk dirinya melainkan juga bagi sesama.


Lantas, bagaimana dengan salib yang ada di rumah kita? Diperhatikan atau tidak? Bagaimana dengan tanda salib yang senantiasa kita lakukan sebelum dan sesudah berdoa? Dihayati atau dilakukan begitu saja? Lebih dalam lagi, sejauh mana semangat Salib Kristus sungguh memberikan daya ubah bagiku sehingga mampu menjadi seorang yang beriman lebih baik? Atau sejauhmana Salib Kristus memberdayakanku untuk menjadi pribadi yang berbelas kasih terhadap sesama? Dalam Salib terkandung suatu daya ubah yang luar biasa. Daya ubah tersebut dilandaskan atas belas kasih Allah yang besar dan segenap umat diajak untuk mengenangkan, menghormati sekaligus menghadirkan semangat Salib Kristus dalam hidup sehari-hari.




-RD Ambrosius Lolong-

copyright parokivianney.org

Managed by