Sabda Telah Menjadi Manusia

Diperbarui: 30 Apr 2019


Gambar: https://media.swncdn.com

Tak terasa kita sudah memasuki bulan Desember. Tak terasa pula kita akan menutup tahun ini dan memasuki tahun yang baru. Perayaan Natal menjadi momen istimewa untuk merencanakan kebersamaan dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Tetapi, ada baiknya kita juga memaknai perayaan natal sebagai peristiwa iman kita, yakni kelahiran Yesus Sang Juru Selamat. Dalam hidup sehari-hari sebetulnya kita diajak untuk mempercayai dan memberikan perhatian pada Sabda Allah. Nah, inilah momen yang tepat bagi kita untuk merenungkan kelahiran Yesus, sekaligus memaknai peristiwa iman tersebut dalam hidup bersama keluarga.


Peran Maria dalam rencana keselamatan Allah sesungguhnya ingin mengatakan bahwa Maria adalah rekan kerja (co-worker/synergoi) Allah. (lih. Luk. 1:49-50) Ungkapan “lahir/dilahirkan” pertama-tama mengarah pada realitas bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh manusia. Ia dilahirkan, bukannya dijadikan. Sebagaimana manusia pada umumnya, termasuk kita, mengalami proses lahir ke dunia ini melalui rahim ibu kita setelah kita berada dalam kandungan selama 9 bulan. Akan tetapi, Yesus mengalami proses kelahiran yang sangat istimewa karena ia terlahir ke dunia dari seorang perawan yang bernama Bunda Maria. Penekanan ajaran mengenai Perawan Maria ini terletak pada Maria yang selalu perawan (Aei parthenos).[1] Artinya, melalui keperawanannya, Maria mencapai suatu kemurnian dan kesucian jiwa yang sempurna.[2] Seperti yang sudah kita ketahui pula, bahwa ajaran mengenai Maria yang dikandung tanpa noda dosa, lebih kita kenal dengan gelar Maria Immaculata, berkaitan dengan seluruh paham keperawanan Maria.


“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel” (Yes 7:14) Penggunaan istilah “perempuan muda” (baca: almah) bagi komunitas Yahudi di Palestina menunjuk kepada perempuan muda yang sudah boleh menikah.[3] Ungkapan ini ingin mengatakan bahwa Maria mempunyai keperawanan yang melampaui status sosial, dan ia telah mencapai suatu keutamaan yang sempurna, yakni sebagai pilihan Allah. Dengan kata lain, keperawanan Maria menunjukkan kepenuhan imannya kepada Allah.[4]


Setidaknya kita boleh mengenal gambaran besar mengapa momen kelahiran Yesus oleh Bunda-Nya Perawan Maria menjadi penting bagi iman Kristiani kita. Sabda yang telah menjadi manusia ini memang secara akal sehat manusia sulit dipahami. Tetapi, sekali lagi itulah iman dan misteri kita sebagai orang Kristiani yang begitu unik dan kaya. Iman membuat kita sepenuhnya percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Inilah misteri iman kita yang membawa kita kepada sukacita. Sukacita karena kita sebagai keluarga-keluarga Kristiani dilahirkan kembali bersama bayi mungil Yesus yang terbungkus lampin sederhana. Kelahiran itu nampak sebagai relasi, perjumpaan, maupun perjuangan yang dialami oleh masing-masing anggota keluarga, termasuk Keluarga Kudus Nazaret. Ingat, setiap keluarga kita mempunyai “tanahnya” masing-masing untuk digarap, disemai, dan akhirnya dituai. Keluarga Kudus Nazaret bersama keluarga kita masing-masing di rumah sebentar lagi akan bersukacita pada saat kelahiran Yesus Putera Allah yang Tunggal ke tengah-tengah dunia.



Fr. Joseph Biondi Mattovano

copyright parokivianney.org

Managed by