Saat Hidup Terasa Lowbat


Ilustrasi: review.bukalapak.com

Warisan secara sederhana dapat diartikan sebagai sesuatu yang berharga, yang diturunkan, dipindahkan, dipercayakan, ditinggalkan, dan secara sah dapat dikelola dan dimanfaatkan oleh yang menerimanya. Warisan umumnya menguntungkan, memberikan jaminan manfaat bagi orang yang melanjutkannya. Orang tua misalnya mewariskan harta bendanya kepada anaknya untuk dikelola dan mampu memberikan jaminan bagi masa depan keturunannya kelak.

Menjadi sebuah pertanyaan reflektif, “Apakah warisanku nanti membuat bahagia atau menjadi sumber masalah?”



Warisan Yesus

Sebelum Yesus Naik ke Surga, ada firman Tuhan yang disampaikan sebagai amanat perpisahan-Nya (lih. Yoh 14:23-29) yaitu, Yesus memberi warisan perintah untuk saling mengasihi, Roh Kudus sebagai penghibur, dan damai sejahtera.

Semua warisan ini sejatinya ingin memberikan sebuah penegasan bahwa Tuhan tak berhenti; berjalan terus menyertai; dan akan menjadikan segalanya baik. Sepanjang hidup manusia akan selalu ada berkat Tuhan yang mencukupkan sebagai sebuah tambahan daya saat hidup terasa ‘lowbat’.


Bagaimana menumbuhkan sikap beriman yang optimis saat semua terasa pesimis? Bagaimana membangkitkan kembali semangat saat sekelilingku sudah tak terasa hangat? Bagaimana harus belajar taat saat segala daya upaya rohaniku tampaknya tak memunculkan berkat?

Maka, ingatlah kembali hal yang disampaikan Yesus dalam amanat perpisahannya, “Damai sejahtera kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera Kuberikan kepadamu, dan apa yang kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu!” (Yoh 14:27).



Mengapa Tuhan tinggalkan damai sejahtera?

Faktanya memang manusia sulit sekali berdamai dengan dirinya, masa lalunya, dan bahkan bisa jadi dengan masa depannya. Manusia sibuk untuk membangun gambaran hidup ideal yang ingin dicapai dan dirasakannya. Ketika semua sudah diprogram, manusia akan mudah stres, marah, frustrasi ketika kenyataan tak sesuai harapan; di sinilah manusia akan sangat berat menerima keadaan. Akhirnya manusia akan lebih banyak mengeluh dan menyalahkan apapun yang bisa di salahkan. Pada sisi lain, inilah fenomena ‘healing generation’ yang muaranya adalah ketidaksanggupan menerima diri dan kenyataan.

Yesus memberikan damai sejahtera sebagai obat ‘healing’ karena di dalamnya terkandung sumber berkat yang luar biasa. Damai itu adalah seni hidup untuk menerima dan menjalani hidup. Orang yang memiliki dan menghidupi damai bukan berarti tidak punya masalah. Ia hanya orang yang berupaya agar energinya tidak terkuras habis untuk memikirkan terus masalah itu dengan mengeluh, menggerutu, menyalahkan, dan bahkan bisa jadi menurunkan kualitas dirinya.


Contoh saat sakit: daripada mengeluhkan rasa sakit terus-menerus, lebih baik mendoakan orang-orang yang merawat saya. Puji Tuhan dalam sakit sekalipun masih ada orang sabar merawat saya. Puji Tuhan dalam sakit sekalipun saya masih punya tempat tidur yang layak. Puji Tuhan dalam sakit sekalipun saya masih menerima sapaan lewat chat WA, dsb.


Di sinilah kadang kita lupa, hanyut, dan tersesat dengan pengalaman dan kenyataan pahit yang sering kali membuat kita makin terpuruk dalam situasi buruk. Artinya, jangan melihat sebuah situasi hanya dari sisimu saja.


Mungkin kita perlu belajar: “jalani prosesnya, kurangi protesnya; lihat dan nikmati berkat-Nya, kurangi keluh kesahnya. Tak perlu menyalahkan siapapun, semua yang terjadi adalah baik untukku dan masa depanku”.


Pertanyaan refleksi akhir tulisan ini: Apa yang sering membuat damai sejahtera Tuhan tidak tinggal dalam hatiku?




-RD David Lerebulan