MAKNA PERAYAAN NATAL

Diperbarui: 18 Apr 2019



Mengapa kita merayakan natal? Injil sendiri tak mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Yesus pun tak memerintahkan para pengikutnya untuk merayakan hari kelahiran-Nya. Pernyataan dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu tentu kerap kita dengar; tak jarang membuat kita kembali mempertanyakan iman kita. Namun demikian, pernahkah kita bertanya dalam hati, apa sebenarnya makna di balik perayaan Natal? Dan apa yang Allah ingin kita ketahui dari Natal?

Memang benar, tidak ada data pasti yang menunjuk bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Namun, secara implisit, Injil Lukas menunjukkan kapan Yesus dilahirkan dengan mengacu pada kelahiran Yohanes Pembaptis, anak Zakaria dan Elizabeth, saudari Maria, ibu Yesus.

Secara tidak sadar, sebenarnya dunia telah mengakui kedatangan Yesus sebagai suatu yang istimewa. Hal itu tampak dalam perhitungan kalendar internasional yang menjadikan kedatangan Kristus sebagai acuannya. Anno Domini (AD), artinya tahun Tuhan, untuk menandai tahun-tahun sesudah kelahiran Kristus; dan BC, yaitu singkatan dari Before Christ untuk tahun-tahun sebelum kelahiran Kristus. Dengan demikian, kedatangan Kristus membagi sejarah manusia menjadi dua, dan titik pusatnya adalah Kristus sendiri.

Perayaan Natal bukan hanya perayaan seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap dunia. Lebih dari itu, perayaan Natal merupakan misteri penjelmaan Putera Allah yang menjadi manusia oleh karena cinta-Nya yang luar biasa. Inilah yang kita kenal dengan istilah INKARNASI. Jadi, perayaan Natal merupakan kabar sukacita akan karya penyelamatan Allah yang sungguh manusiawi.

Natal bukanlah sekadar merayakan fakta masa lampau kelahiran seseorang, melainkan suatu realita yang terus-menerus menjadi baru bagi kehidupan kita, bahwa “Sang Sabda telah menjadi daging” (Yoh 1:14); Bahwa Allah sungguh beserta kita.

Perayaan Natal adalah sebuah Misteri Keselamatan, awal dari Misteri Paska di mana ‘daging’ itu sungguh menjadi kurban penebus dosa manusia.  Allah yang telah menjadi manusia (Kelahiran), dikurbankan, supaya manusia diangkat dan diselamatkan oleh-Nya (Kebangkitan).

Semoga kita mampu memaknai Natal bukan hanya sebagai peristiwa kelahiran belaka,  melainkan lebih dalam lagi, yaitu Allah telah mengutus PuteraNya yang tunggal untuk menjadi manusia, sama seperti kita, untuk menyelamatkan kita lewat penderitaan-Nya di kayu salib. Selamat Natal!


RD. Angga Sri Prasetyo

copyright parokivianney.org

Managed by