copyright parokivianney.org

Managed by

MAGNIFICAT: Sukacita Maria dalam Iman

Diperbarui: 18 Jun 2019


Ilustrasi: dungiljan.blogspot.com

Injil Lukas menyajikan tiga kidung yang sangat indah dan kini menjadi doa yang didaraskan saat ibadat pagi, ibadat sore dan ibadat penutup hari dalam tradisi agama Katolik. Ketiga kidung itu adalah “Kidung Zakharia” [Benedictus; Luk 1:68-79] didoakan di Ibadat Pagi, “Kidung Maria” [Magnificat; Luk 1:46-55] didoakan saat ibadat Ibadat Sore, dan “Kidung Simeon” [Nunc Dimittis; Luk 2:29-32] didoakan waktu menutup hari. Ketiga kidung dalam Injil Lukas ini menggambarkan bahwa Allah menghadirkan karya keselamatan bagi dunia, melalui orang-orang biasa dan sederhana. Kidung Zakaria merupakan kidung ucapan syukur yang diucapkan oleh Zakaria karena kelahiran puteranya Yohanes Pembabtis. Kidung Simeon adalah ucapan syukur dari Simeon yang setelah penantian panjangnya, akhirnya ia melihat bayi Yesus yang dipersembahkan oleh Yosep dan Maria di kenisah. Kidung yang ketiga adalah “Kidung Maria”, ungkapan hati Maria yang ia katakan ketika ia mengunjungi Elisabeth saudarinya sesaat setelah ia menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel. Nama Magnificat diambil dari kata pertama kidung tersebut dalam bahasa Latin yang artinya memuliakan.


Kidung Maria merupakan sebuah doa yang mencerminkan iman-kepercayaan seseorang yang sangat mendalam. Maria mempercayai apa yang akan dilakukan oleh Allah atas dirinya. Sepanjang hidupnya Maria tetap penuh percaya pada kerahiman dan kebaikan hati Allah (lihat Luk 1:50). Dia percaya bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang rendah dalam dunia ini dan Dia akan setia pada segala janji-Nya (Luk 1:52-53.55). Kidung Maria merupakan sebuah contoh indah tentang kenyataan bahwa kita tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan besar di mata publik untuk menyenangkan Allah atau menguraikan secara terinci suatu isu teologis yang mendalam. Dengan mengikuti teladan Maria dalam mengasihi Allah, mempercayai Dia dan dengan rendah hati berjalan bersama-Nya, kita semua pun dapat menyenangkan Allah. Ketika kita datang menghadap sang Mahatinggi setiap hari dalam doa pribadi, cobalah untuk mengingat contoh kerendahan hati dan iman-kepercayaan Bunda Maria. Bersama dia dan dalam kuasa Roh Kudus, kita pun akan mampu mendeklarasikan bahwa, “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49)


Maria menjawab panggilan Allah dengan penuh sukacita: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Sepantasnyalah apabila kita memohon kepada Allah agar dapat ikut ambil bagian dalam “optimisme” Maria, sukacitanya yang seharusnya merupakan sukacita semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita semua. Setiap hari di seluruh dunia, dalam Ibadat Sore, para puteri dan puteranya dalam Gereja menyanyikan “Kidung Maria” ini. Dengan berputarnya bumi ini, praktis kidung pujian dan syukur Maria berkumandang dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari biara yang satu ke biara yang lain, dari komunitas yang satu ke komunitas yang lain, dari keluarga yang satu ke keluarga yang lain tanpa henti sampai akhir zaman.



Chiko Namang