Korban, Paskah dan Kehidupan

Diperbarui: 11 Mei 2019


Foto: Komsos/ Sepin

Dalam perayaan ekaristi saat doa syukur agung, kita sering mendaraskan doa anamnesis. Doa anamnesis merupakan ungkapan iman akan Allah yang hadir dengan segala karya penyelamatan-Nya melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus, “dengan wafat Engkau menghancurkan kematian, dengan bangkit Engkau memulihkan kehidupan”. Doa ini merupakan inti iman kita akan Kristus yang kita amini setelah peristiwa paskah Tuhan. Dalam perjanjian lama kita kerap mendengar atau membaca bahwa dalam tradisi bangsa Yahudi dikenal korban sembelihan, korban yang menjadi silih untuk pemulihan relasi antara Yahwe dan bangsa Yahudi. TUHAN berfirman kepada Musa: "Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seseorang tidak dengan sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal yang dilarang TUHAN dan ia memang melakukan salah satu dari padanya, maka jikalau yang berbuat dosa itu imam yang diurapi, sehingga bangsanya turut bersalah, haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN karena dosa yang telah diperbuatnya itu, seekor lembu jantan muda yang tidak bercela sebagai korban penghapus dosa. Ia harus membawa lembu itu ke pintu Kemah Pertemuan, ke hadapan TUHAN, lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala lembu itu, dan menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN (Imamat 4: 1-4). Dengan korban sembelihan itu derajat manusia dipulihkan, dan manusia kembali memiliki citra yang baik dihadapan Yahwe.


Tidak ada kehidupan tanpa pemulihan, dan tidak ada pemulihan tanpa korban. Dalam konteks ini korban memiliki peran penting dalam kehidupan. Melalui korban manusia ditebus, diselamatkan yang kemudian manusia memperoleh kehidupannya lagi. Dosa menjauhkan manusia dari Allah yang adalah sumber kehidupan, ketika manusia jauh dari sumber hidup itu maka manusia kehilangan hidupnya yang sejati. Keselamatan dari Yahwe untuk umat manusia dalam perjanjian lama ditandai dengan darah anak domba. Dalam perjanjian baru keselamatan Allah bagi umat yang dikasihi-Nya ditandai dengan darah putra tunggal-Nya Yesus Kristus yang adalah Anak Domba Allah. Korban putra tunggal Allah menunjukkan cinta Allah yang luar biasa kepada manusia. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16). Paskah ‘kebangkitan tuhan’ menyatakan bahwa pengorbanan Kristus di kayu salib bukanlah kesia-siaan, tetapi merupakan penggenapan dari karya pelayanan Yesus.


Panggilan orang Kristen adalah mengimitasi Yesus, mengamalkan secara konkret iman akan Kristus. Hendaknya kehadiran dan perilaku kristiani harus menghidupkan, memberikan pengaharapan kepada mereka yang putus asa, dan menguatkan meereka yang lemah. Pengorbanan orang-orang kristiani yang membangkitkan dan menghidupkan itu, harus didasarkan pada kasih Tuhan yang sudah terlebih dulu mencintai kita tanpa syarat.


Selamat mengenangkan pengorbanan Tuhan.

Selamat paskah dan selamat memasuki kehidupan baru.




Chiko Namang

copyright parokivianney.org

Managed by