Kitab Suci bersama Tradisi dan Magisterium Gereja


Foto: catholicphilly.com

Bagi orang Katolik, permenungan Bulan Kitab Suci Nasional dilaksanakan pada bulan September. Kesempatan ini digunakan sebagai waktu bagi umat untuk membaca, merenungkan, dan mempraktekan pesan-pesan Kitab Suci. Persoalan intoleransi yang muncul belakangan ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan spiritualitas Kitab Suci yang dimiliki oleh umat. Padahal, pengetahuan dan spiritualitas Kitab Suci itu menjadi sangat penting agar kita tidak sembarangan mengambil ayat-ayat suci untuk kepentingan pribadi. Kitab Suci harus dibaca dan ditafsirkan seturut dengan Tradisi dan Magisterium.


Gereja Katolik menggunakan istilah hermeneutika, sebagai sebuah ilmu yang menafsirkan Kitab Suci. Hermeneutika diambil dari bahasa Yunani, hermenuein, yang berarti menginterpretasi, menjelaskan, menguraikan, mengidentifikasi makna dari sebuah tulisan yang ditulis oleh penulisnya. Kitab Suci pada mulanya ditulis dengan bahasa yang kurang dapat dipahami pada zaman sekarang ini. Begitu banyak bahasa metafora dan ilustrasi yang asing. Oleh karena itu, hermeneutika sangat diperlukan bahkan dianjurkan dalam membaca Kitab Suci.

Ilmu hermeneutika memang diperlukan, akan tetapi Gereja tidak hanya terpaku pada ilmu tersebut. Gereja juga meyakini bahwa Kitab Suci dituliskan oleh para penulis dengan inspirasi dari Roh Kudus. Roh Kudus juga memberikan terang-Nya secara personal kepada pembaca Kitab Suci dan secara komunal kepada hirarki Gereja. Gereja mengajak setiap orang yang membaca dan menafsirkan Kitab Suci agar mau dibimbing oleh Gereja yang memiliki Tradisi (bdk. KGK 113). Tradisi Gereja memberikan dua kemungkinan menafsirkan Kitab Suci, yaitu secara literer dan secara mistik.


Penafsiran literer atau harafiah adalah pemaknaan arti sesuai dengan Kitab Suci dan yang telah ditafsirkan ketat oleh para ahli Kitab Suci (bdk. KGK 116). Pendekatan itu meliputi aspek waktu, tempat, pola hidup, cara berfikir, tujuan penulisan, serta cara-cara sastra penulisan Kitab Suci (bdk. DV 12, KGK 109-110). Penafsiran mistik atau rohani adalah sebuah pemaknaan dari bahasa harafiah yang sama namun memiliki makna yang lebih dalam lagi terutama sebagaimana diinspirasikan oleh Roh Kudus. Para penulis Kitab Suci menyadari bahwa apa yang dimaksudkan oleh Allah tidak dapat semuanya terrangkum dalam sebuah tulisan. Oleh karena itu, pemaknaan secara rohani penting dilakukan bersama dengan Roh Kudus. Peranan Roh Kudus yang besar menjadikan Kitab Suci memiliki aspek rohani.


Dari penjelasan singkat di atas, Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kitab Suci tidak hanya ditafsirkan secara harafiah, literer dan kontekstual. Akan tetapi Gereja juga berusaha menafsirkan secara spiritual dengan bantuan Roh Kudus. Semakin jelas bahwa ajaran Gereja Katolik dalam menafsirkan Kitab Suci bukan secara fundamental, melainkan harus ditafsirkan dengan dua bagian yaitu literer dan spiritual.


"Saat kita berdoa, kita sedang berbicara kepada Allah. Saat kita membaca Kitab Suci, Allah yang sedang berbicara kepada kita."

-St. Hieronimus-



RD. Andreas Subekti


copyright parokivianney.org

Managed by