Kita Adil, Bangsa Sejahtera


Ilustrasi: Kita Adil, Bangsa Sejahtera

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bunyi sila ke-5 dasar negara kita ini menyiratkan sebuah makna yang begitu mendalam. Definisi mengenai keadilan juga menyiratkan banyak makna yang terkadang sulit dipahami dalam konteks-konteks tertentu. Apakah yang disebut adil itu ketika seorang bapak yang mempunyai dua anak membagi satu roti sama besarnya? Apakah ini sudah disebut adil? Contoh lain adalah apakah seorang guru memberi nilai 100 pada muridnya yang benar semua jawabannya dan memberi nilai 0 pada anak yang mencontek sudah disebut adil? Tentu yang disebut sebagai keadilan memperhatikan dengan cakap situasi dan kondisi dari subjek, serta objek yang menjadi sasaran keadilan. Mereka yang disebut sebagai kaum marjinal atau mereka yang berada di wilayah periferi seringkali menjadi korban dari ketidakadilan dunia yang tak berujung akar penyebabnya.

Di tengah munculnya pelbagai keprihatinan yang mencederai keadilan, umat Kristiani diingatkan pada teladan cinta kasih Yesus. Cinta kasih Yesus Kristus menginspirasi kita semua untuk saling merendahkan diri dan saling melayani. Sikap untuk saling merendahkan diri dan melayani berarti selalu melihat ke bawah bukan ke atas. Wujud kasih yang paling adil dalam hidup berbangsa dan bernegara adalah membangun keadaban publik. Keadaban publik paling sering disebut dalam istilah sosiologis, sedangkan orang Kristiani menyebutnya dalam bahasa Kitab Suci sebagai Kasih.

Usaha untuk membangun keadaban publik sangat dipengaruhi oleh tiga poros, yakni negara, bisnis atau pasar, dan masyarakat warga. Negara bertugas memastikan kebaikan bersama bagi semua warga negara. Misalnya saja, undang-undang, hukum yang berlaku di suatu negara, dan juga peraturan pemerintah.

Dunia bisnis sudah seharusnya menjalankan fungsinya dengan baik. Maka, negara tanpa bisnis atau pasar bagaikan sayur tanpa garam. Bisnis mesti berpegang pada apa yang disebut sebagai fairness. Bisnis yang fair tentu tidak mempekerjakan tenaga anak, tidak membuang limbah yang berbahaya bagi masyarakat, serta taat membayar pajak. Inilah yang dikatakan oleh seorang filsuf kontemporer, John Rawls, sebagai justice as fairness.

Masyarakat warga, kita-kita ini ada di dalam masyarakat warga, modalnya adalah saling percaya. Contoh: di rumah (kalau kita hidup di desa/kompleks setiap malam kita yakin tidak ada yang melempari rumah kita dengan batu), di jalan (para pejalan kaki tidak mungkin ditabrak sepeda motor di trotoar karena percaya), dan di kantor (pimpinan memberikan tugas kepada setiap divisi karena percaya mereka dapat mengerjakan tugas-tugasnya). Telah lama bangsa ini mengalami poros negara dan poros ekonomi yang selingkuh. Akibatnya, kepentingan masyarakat warga menjadi dikorbankan dan keadilan tercederai. Fenomena korupsi bisa menjadi salah satu gejalanya. Ketika ada rasa saling percaya, terciptalah keadaban publik yang sangat bermakna dan semakin sejahtera bagi negara, bisnis, serta masyarakat warga. Dalam bahasa iman Kristiani adalah terwujudnya keadilan sosial yang dilandaskan oleh ajaran kasih Kristus. SEMOGA!




-RD. Joseph Biondi Mattovano