Cinta Adalah Pelayanan


Rahmat Roh Kudus yang kita terima saat pembaptisan, yang kemudian dikuatkan dalam krisma, seyogyanya memampukan dan menguatkan kita untuk semakin menjadi saksi iman di tengah masyarakat. Menjadi saksi iman berarti mewujudnyatakan Yesus Kristus yang kita imani dalam kata dan perbuatan yang konkret. Sebagaimana Yesus yang mencintai kita dengan mau menghambakan diri dengan melayani manusia yang berdosa, kita pun dipanggil untuk mau melayani sesama. Terutama melayani mereka yang lemah, kecil, miskin, tertindas, dan disabilitas.

Yesus yang datang ke dunia untuk melayani dan bukan untuk dilayani, ini nampak jelas ketika Ia menjawab permintaan Ibu Yakobus dan Yohanes: “Barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20: 26-27)

Pelayanan kepada sesama adalah wujud nyata bahwa kita mencitai Tuhan dan itu telah ditunjukkan oleh Yesus yang solider dengan manusia dan mengambil rupa manusia lalu masuk dalam sejarah kehidupan manusia. Seorang imam yang ditahbiskan atau umat yang dipilih untuk melaksanakan tugas tertentu dalam Gereja, hendaknya melaksanakan tugas perutusannya sesuai dengan tugas dan misi Gereja itu sendiri. Sebagaimana Yesus yang hadir ke dunia untuk melaksanakan kehendak Bapa, kita pun melaksanakan tugas pelayanan kita dalam kerangka pelayanan kepada Tuhan. Tidak ada agenda pribadi atau tujuan terselubung yang hendak kita capai, melainkan semakin menghadirkan Yesus Kristus di tengah dunia.

Pelayanan yang kita berikan kepada sesama hanya demi kemuliaan Tuhan semata: “Dia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil.” (Yohanes 3: 30). Jika demikian maka tidak ada yang perlu kita banggakan dari pelayanan kita, pun ketika kita lelah dan merasa gagal, semua itu kita kembalikan kepada Tuhan. Karena pelayanan yang kita berikan adalah wujud konkret kita mencintai Allah dengan mau mencintai dan melayani sesama. Sri Paus Santo Gregorius I (menjabat 590-604) adalah paus yang menunjukkan jabatannya sebagai pemimpin Gereja Katolik dengan gelar Servus Servorum Dei (hamba segala hamba Allah). Sebuah gelar diri yang mau menunjukkan kepada dunia bahwa menjadi hamba adalah tugas perutusannya. Cintanya kepada Tuhan terwujud dengan kerelaan hati untuk mau dengan sungguh memberi perhatian kepada para budak. Budak adalah hamba dan Sri Paus Santo Gregorius mau menjadi hamba dari para budak tersebut.

Semangat hamba yang ia wariskan untuk Gereja, adalah warisan mulia yang kita harus teladani. Keteladanan yang bertolak belakang dengan apa yang dunia cari saat ini: jabatan, kuasa, dan privilese khusus. Kita perlu terus menghidupkan terang Roh Kudus yang telah kita terima di dalam diri kita dalam pelayanan kita di Gereja seperti yang telah ditunjukkan oleh Sri Paus Santo Gregorius.

Pelayanan yang kita lakukan adalah ‘Proyek Tuhan Allah’ yang diberikan kepada Gereja dan Gereja teruskan kepada kita, dan bukan ‘proyek pribadi’. Semakin mencintai Tuhan berarti semakin mau menghambakan diri dalam karya pelayanan kita, membawa orang yang kita layani merasakan Tuhan yang hadir dan mencintai mereka.




-Chiko Namang