Keluarga Kudus di Masa Pandemi (Keluarga sebagai basis dasar komunikasi baik dan benar dalam dunia)


Ilustrasi: https://abcdoiphone.com/

Pandemi adalah fakta kehidupan yang sedang dihadapi. Sementara itu, digital adalah konteks hidup sosial kita sekarang ini. Berbagai kegiatan dilakukan secara daring, tidak luput pula interaksi kita dengan Gereja. Hal ini juga mempengaruhi kehidupan dan dinamika di dalam keluarga, apalagi rumah menjadi basecamp kegiatan sampai kehidupan menjadi normal kembali. Hanya saja, sekalipun dimudahkan dengan komunikasi digital, kita juga mengalami persoalan yang tidak pelik ketika kita dalam interaksi sosial. Rasanya, salah satu tantangan setiap keluarga Katolik adalah membangun interaksi sosial di era digital. Menjadi keluarga kudus berarti membangun komunikasi yang sehat dan saling mendidik dalam komunikasi dunia digital.


Konteks dan Persoalan

Tidak jarang kita menemukan bahwa ada beberapa persoalah yang terjadi dalam komunikasi dunia digital. Salah satunya adalah praktik teror, bullying, psywar, dll. yang menyebabkan anggota keluarga kita mengalami depresi dan bentuk gangguan mental lainnya. Tinggal di rumah dan berinteraksi dari rumah ternyata mempengaruhi kesehatan mental kita. Efek yang paling dirasakan adalah anggota keluarga kehilangan kemampuan untuk membangun komunikasi, entah menjadi penyendiri atau lebih sering menghindar. Interaksi menjadi minim, sulit untuk saling memahami dan cenderung tidak peduli. Namun, mari merenungkannya bukan sebagai korban, tetapi kita mau menjadi pelaku Injil dunia digital dengan menimba inspirasi dari Keluarga Kudus Nazaret.


Keluarga Kudus Nazaret: Interaksi yang Terbuka

Ketika Herodes hendak membunuh anak-anak berusia dua tahun ke bawah, Yosef mendapatkan mimpi untuk menyingkir ke Mesir. Segera Yosef membawa Maria dan Yesus menyingkir sehingga mereka selamat (Mat 2: 13-15). Injil hanya menceritakan demikian, namun kita bisa membayangkan interaksi yang terjadi di antara mereka. Pesan dari mimpi yang di luar logika, Maria yang baru bersalin, Yesus yang masih baru lahir, perjalanan yang jauh, resiko perjalanan yang bisa terjadi, ini semua pasti menjadi pertimbangan Yosef dan Maria. Namun, karena keterbukaan di antara mereka dan percaya pada Tuhan, mereka memutuskan untuk berangkat, mengalahkan segala kekhawatirannya, dan akhirnya selamat.


Keluarga Kudus Katolik: Semangat Cinta Kasih yang Terbuka

Apa yang bisa kita pelajari dari Keluarga Kudus Nazaret ini? Kita belajar bahwa keluarga menjadi tempat untuk diskresi bersama. Masing-masing anggota keluarga terbuka mengutarakan kegelisahan dan kesulitan, kegembiraan dan harapan. Kemudian dibawa dalam doa, lalu diputuskan bersama. Itulah diskresi dalam keluarga. Kebiasaan untuk saling terbuka dan menimbang bersama dalam keluarga menjadi dasar komunikasi yang baik dan benar dalam interaksi keluarga. Dalam kebiasaan ini, tiap anggota keluarga terbiasa untuk memikirkan, menimbang dan memutuskan yang baik untuk bersama dan benar untuk dilakukan. Mungkin kita jenuh karena beraktivitas dari rumah dan berjumpa terus menerus dengan orang-orang di rumah. Kesempatan ini baik digunakan untuk membangun komunikasi yang baik dan benar. Bukan hanya saling berbicara, tetapi komunikasi juga menjadi ungkapan cinta kasih yang terbuka dan bisa dirasakan oleh tiap anggota keluarga. Semoga keluarga kita bisa menjadi basis interaksi yang baik memasuki dunia sosial digital.




-RD Ambrosius Lolong-