Keluarga adalah Sekolah Utama Kehidupan


Ilustrasi Gambar: giaophanphucuong.org

Keluarga adalah sekolah pertama dan utama dalam kehidupan. Ibarat benih keluarga adalah lahan di mana benih ini tumbuh.


Murid-muridNya bertanya kepadaNya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orangorang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.


Yang jatuh di tanah yang berbatubatu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.


Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”_ (Lukas 8:9-15)


Ada benih yang jatuh di tepi jalan, tanah berbatu, tanah bersemak duri, dan tanah yang subur. Tanah pinggir jalan adalah keluarga yang rusak dari awal. Anak merasa terbuang dan tidak dikehendaki kehadirannya di tengah dunia. Hasil hubungan jalanan, seks bebas, hubungan pria wanita yang terlalu muda dan belum siap menjadi menjadi orangtua. Anak tidak bertumbuh dalam kasih dan imannya, bagaikan benih yang dimakan burung.


Tanah yang berbatu-batu adalah tanah tipis sehingga akar tidak dapat tumbuh. Atau tumbuh sebentar dan layulah. Anak anak yang mulai tumbuh dalam kasih namun karena akarnya pendek dan tanahnya tipis, benih itu layu dan tidak tahan hidup ketika terik matahari mulai naik. Keluarga berantakan, orangtua mencari kesenangan sendiri, sibuk urusan pribadi, anak terlantar tidak mendapat perhatian. Keluarga berantakan bahkan berakhir dengan perceraian.


Tanah yang semak duri adalah keluarga penuh tantangan ekonomi, lingkungan hidup sekitar yang kurang ramah, kurang sehat namun cukup komunikasi. Anak cukup mendapat perhatian meski tidak sebagaimana diinginkan anak karena adanya generation gap sehingga bahasa kadang kurang nyambung. Namun dengan adanya perhatian dan tantangan, anak berkembang menjadi pribadi yang kuat. Tantangan dan kekurangan bukanlah hambatan bahkan mitra tanding yang mengasyikkan.


Tanah yang subur dan baik adalah keluarga yang penuh kasih, perhatian, pengertian, dan penghargaan. Tidaklah semua keluarga berhasil seperti itu. Banyak pula yang seolah-seolah harmonis namun sesungguh penuh kekhawatiran dan ketakutan yang mengatas namakan cinta. Cinta jenis ini malah menimbulkan kepenuhan akan kontrol, cemburu, kecurigaan dan ketidakpercayaan satu sama lain bahkan persaingan yang tidak sehat.


Cinta adalah anugerah dari kehadiran yang kudus, Allah Roh Kudus dan para Kudus yang penuh dengan damai. Saat itulah nampak pada suasana hidup yang penuh damai, pujian syukur, tolongmenolong, perhatian, pengertian, penghargaan dan segala keutamaan.



RD. T.A.M. Rochadi Widagdo

copyright parokivianney.org

Managed by