top of page

Jenazah Utuh Monsinyur Gabriel Manek, S.V.D.

FOTO: http://fifinmaidarina.com/semana-santa-larantuka/

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan [Ibrani 12:14]


Masih di kota Larantuka. Sebuah kecamatan di Kabupaten Flores Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, yang sekaligus menjadi ibukota dari Kabupaten Flores Timur. Larantuka terletak di kaki Gunung Ile Mandiri, yang memiliki tradisi peninggalan bangsa Portugis.

 

Cerita rakyat di sana, menyebutkan bahwa Kerajaan Larantuka semula didirikan oleh seorang tokoh perempuan bernama Watowele bersama suaminya Pati Golo Arakian, seorang bangsawan dari Pulau Timor dari Kerajaan Manuaman Lakaan, yang juga peranakan dari bangsawan Jawa dan juga bangsawan Kerajaan Manuaman Lakaan Fialaran. Kerajaan itu semula dikenal dengan nama Kerajaan Ata Jawa sebelum menjadi nama Larantuka.

 

Mayoritas penduduk Larantuka adalah Katolik, dan mempunyai kegiatan rutin setiap Paskah yaitu Semana Santa yang sudah dibahas di edisi sebelumnya.

 

Salah satu sudut di Kota Larantuka adalah Biara Pusat Putri-putri Reinha Rosaria atau Biara PRR. Dan di dalam kapel tersebut ditahtakan dua jasad orang suci, yaitu Mgr. Gabriel Manek, SVD. Dan Suster Anfrida, SSpS. Jasad kedua orang suci tersebut dibaringkan dalam peti khusus yang terbuat dari aluminium, yang di letakkan di sebelah kiri dan kanan altar. Pada sebelah kiri altar dibaringkan jenazah Mgr. Gabriel Manek, SVD dan di sebelah kanan terbaring jenazah Suster Anfrida, SSpS.

 

Gabriel Manek (Lay Tjong Sie) adalah putra bungsu dari pasangan Lay Piang Siu dan Liu Keu Moy. Gabriel lahir di Lahurus, Kabupaten Belu 18 Agustus 1913. Gabriel menjadi yatim piatu pada usia yang masih kecil. Gabriel lalu diangkat anak oleh tante Maria Belak, istri dari raja Kerajaan Taifeto, Don Kaitanus da Costa. Karena itulah Gabriel memiliki kesempatan mengenyam pendidikan.


Raja Don dan istrinya memiliki kecintaan terhadap devosi kepada Bunda Maria, sehingga hal itu juga yang diajarkan kepada Gabriel. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat di Halilulik, Gabriel melanjutkan pendidikan ke Seminari di Sikka-Maumere. Kemudian masuk novisiat Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) pada tahun 1933. Gabriel kemudian ditahbiskan pada 1941, dan berkarya sebagai pastor pembantu di Paroki Nita, Flores. Sepuluh tahun kemudian, bersamaan dengan pendirian Vikariat Apostolik Larantuka, Gabriel ditahbiskan menjadi Uskup di Keuskupan Larantuka. Bersama dengan Suster Anfrida, SSpS, Gabriel mendirikan Kongregasi Putri Reinha Rosari (PRR) di Larantuka. Sepuluh tahun kemudian Gabriel ditugaskan menjadi Uskup di Keuskupan Ende, dan setelah itu beliau mengundurkan diri karena alasan kesehatan, dan kemudian berangkat ke Amerika untuk menjalani pengobatan.

Setelah kondisi membaik, Gabriel melayani di “Saint Fancis Xavier Catholic Japanese Mission” dan juga Komunitas kaum Negro di St. Patrick Ouckland, Amerika. Dan pada 30 November 1989, Gabriel menghembuskan nafas terakhir pda 30 November 1989 di RS Sint John, Lakewood, Denver, Amerika Serikat, dan dimakamkan di Techny, Amerika Serikat pada 5 Desember 1989.

 

Pada 14 April 2007, atas permintaan pimpinan Suster PRR, jenazah Gabriel di gali dan akan dibawa pulang ke Indonesia, setelah terkubur selama 17 tahun. Dan saat dilakukan penggalian ditemukan bahwa jenazah Gabriel masih utuh walaupun tubuhnya tidak diawetkan.

 

Hingga kini, jenazah Mgr. Gabriel Manek, SVD di semayamkan di Kapela Induk di Biara Pusat Tarekat PRR di Lebao, Larantuka, dan tempat ini saat ini menjadi tempat ber-ziarah bagi umat Katolik di Larantuka dan juga dari Indonesia.



Comments


bottom of page