Hidup Penuh Hikmat


Ilustrasi Gambar: https://samudra.gkagloria.id

SERING saya mendengar bahwa orang mengatakan “menurut hikmat saya”; kata hikmat di sini berarti pendapat, buah pikiran, paradigma atau konsep pemikiran, jalan pemikiran, rancangan, dan kebijaksanaan. Hikmat Allah sangat hikmat manusia; sebagaimana digambarkan oleh nabi Yesaya.


“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9).


Rasul Paulus membedakan antara hikmat manusia dan hikmat Allah. Hikmat manusia dikatakan sebagai suatu kesombongan di hadapan ALLAH. Hikmat Allah adalah kebodohan di mata manusia.


Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat. (1 Korintus 1:22-25, 27).


"Per berarti melalui dan sonar berarti gema, jadi manusia harus menggemakan pikiran dan kehendak Allah."


Bagi kita manusia beriman Katolik, menggunakan kata hikmat bukan berarti hikmat manusia namun hikmat Allah. Sehingga di dalam berhikmat kita menampakan iman kita kepada Yesus Kristus yang merupakan hikmat Allah; disinilah letak martabat kita sebagai orang-orang yang beriman.


Kita berhikmat untuk menyampaikan buah pikiran Allah dan kehendak Allah, maka berhikmat berarti kita menjadi corong-corong Allah sendiri. Kita ingat bahwa manusia disebut person yang berasal dari kata per dan sonar. Per berarti melalui dan sonar berarti gema, jadi manusia harus menggemakan pikiran dan kehendak Allah.


Untuk mengenal pikiran dan kehendak Allah membutuhkan pertobatan; hubungan yang intim dengan Tuhan. Maka tidak mungkin kita berhikmat tanpa pertobatan. Melalui pertobatan kita mendengar dan mengenal Allah yang mengasihi kita. “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Matius 5:8). Kesucian kita peroleh dari buah pertobatan; dan buah dari pertobatan adalah hikmat Allah; di dalam hikmat Allah kita memperoleh martabat hidup kita sebagai anak-anak Allah.


Pancasila yang menjadi dasar negara kita sangat sesuai dengan hukum utama dan terutama, yaitu cinta kepada Allah, cinta kepada sesama dan cinta kepada kehidupan kita; maka mengamalkan Pancasila adalah mengamalkan hikmat Allah. Kita bersyukur bahwa dengan mengamalkan Pancasila maka bangsa Indonesia telah pula mengamalkan hikmat Allah. Inilah anugerah Tuhan bagi bangsa kita yang merupakan karya Roh Kudus agar kita berhikmat dan bermartabat.



RD. T.A.M. Rochadi Widagdo

copyright parokivianney.org

Managed by