GREGORIUS AGUNG: Antara Semboyan dan Praktik Hidup


Ilustrasi: www.heraldmalaysia.com/

Hamba dari Para Hamba Allah adalah gelar untuk seorang Paus. Ada banyak gelar yang mengandung semangat kerasulan. Gelar-gelar lain misalnya: Pontifex maximus (jembatan agung), Santo Padre (Bapa Suci). Servus servorum Dei (Hamba dari Para Hamba Allah) berasal dari Paus Gregorius I (590-604). Gelar tersebut mau menandakan bahwa menjadi paus itu bukanlah pertamatama sebuah jabatan tertinggi, melainkan sebagai tugas yang bagaikan budak/ hamba, yang mesti taat kepada Tu(h)annya. Padahal Paus ini berasal dari bangsawan Romawi, putra seorang senator. Dia sendiri adalah prefectus (pejabat kekaisaran) Roma pada usia 30 tahun. Gregorius tinggal di sebuah biara yang ia dirikan di tanah keluarganya. Hartanya melimpah, namun atas dasar semangat itu, dia mengosongkan dirinya. Banyak tanah yang luas dari warisan keluarga dan harta darinya dihibahkan untuk Gereja dan biara. Pada saat Gregorius menjadi Paus, keadaan masyarakat sekitar sangat mencekam karena pandemi merajalela. Ia mencurahkan perhatiannya kepada segenap umat manusia.

Meskipun ia adalah Paus berlatar belakang monastic (biara kerahiban yang mengasingkan diri dari dunia), namun ia mahir dalam tata pemerintahan karena pengalaman politiknya sebagai anak senator dan sebagai prefectus, sehingga terasahlah kemampuannya mengatur masyarakat dan umat beriman. Dia menjadi seorang administrator yang berbakat. Selama kepausannya, pemerintahannya jauh melampaui kaisar dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Roma. Gregorius mendapatkan kembali otoritas kepausan di Spanyol dan Perancis dan mengirim misionaris ke Inggris, termasuk Agustinus dari Canterbury dan Paulinus dari York. Penyelarasan kembali kesetiaan orang-orang barbar (daerah utara) ke pangkuan iman sejati Roma dan keluar dari aliansi Kristen Arian, yaitu bid’ah atau aliran sesat dan kemudian membentuk Eropa abad pertengahan. Dia juga memerangi bid’ah Donatis, yang populer khususnya di Afrika Utara pada saat itu.

Usaha-usaha besar lainnya yang keluar dari iman yang berkobar dalam semangat hamba adalah Misi Gregorian: mempertobatkan bangsa Anglo-Saxon yang saat itu sebagian besar masih kafir. Gregorius juga terkenal karena tulisan-tulisannya, yang lebih produktif daripada para pendahulunya sebagai paus. Ia mensistimatisasi banyak perkara-perkara liturgi, seperti nyanyian Gregorian, litani para kudus, dan aneka prosesi. Bahkan ia sendiri berkeliling di jalanan Roma mendaraskan doa-doa pada masa pandemi. Ia dikenal sebagai “Bapak Ibadah Kristen” karena usahanya yang luar biasa dalam merevisi ibadah Romawi pada zamannya. Kontribusinya pada pengembangan Liturgi Ilahi dari Karunia yang Disucikan, masih digunakan dalam Ritus Bizantium, yang begitu signifikan sehingga secara umum ia diakui sebagai penulis de facto.

Gregorius adalah salah satu Bapa Latin dan Pujangga Gereja. Dia dianggap sebagai orang suci di Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, Komuni Anglikan, berbagai denominasi Lutheran, dan denominasi Protestan lainnya. Segera setelah kematiannya, Gregorius dikanonisasi oleh pengakuan popular. Dia adalah santo pelindung musisi, penyanyi, siswa, dan guru.

Masih ada begitu banyak karya lainnya, namun yang tertulis ini, cukup mewakili betapa bakat yang beragam dan pengalaman hidup yang kaya serta mendalam dicurahkan untuk memajukan Gereja dan masyarakat pada masanya. Semua ini adalah pancaran dari semangat imannya yang terumuskan secara singkat dalam gelar Hamba dari Para Hamba Allah! Alleluia!




-RD Yustinus Sulistiadi