Gereja Sebagai Rumah Pelayanan Umat Beriman


Foto: Doc. Komsos

Ruang gereja, tempat umat paroki datang berhimpun untuk mendengarkan Sabda Tuhan, berdoa dan menyanyi, merayakan kurban Ekaristi memiliki suatu gambaran dasar yang sangat khusus yakni sebagai kenisah Allah, tubuh mistik Kristus yang dibangun di atas batu-batu yang hidup.


Oleh karena itu, bangunan rumah ibadat Kristiani berkaitan dengan pemahaman tentang Gereja sebagai umat Allah. Perencanaan dan konstruksi rumah gereja baru harus memperhitungkan persekutuan umat yang mengaktualisasikan dirinya seturut gagasan Konsili Vatikan II, yaitu sebagai persekutuan umat Allah yang berziarah menuju Yerusalem surgawi.


Liturgi yang dirayakan merupakan kegiatan Kristus Penyelamat, dalam Roh Kudus, oleh seluruh perhimpunan gerejani, yang ditata dalam tugas-tugas pelayanan, dengan tandatanda sakramental yang mendatangkan berkat dan rahmat berlimpah.


Realitas Gereja pada hakekatnya mengandung misteri dan sakramental, terungkap dalam gambaran sejarah penyelamatan “umat Allah” dan secara khusus menyatakan diri dalam himpunan umat yang sedang merayakan liturgi, subyek perayaan Kristiani. Sesungguhnya Yesus Kristus, Sabda yang menjelma, sakramen Allah Bapa, melalui Roh Kudus mengikutsertakan peran keselamatanNya kepada umat sebagai nabi, imam dan raja. Sehingga pantaslah sabda tersebut menjadi kabar gembira, puji-pujian dan pelayanan.


Melalui ruangan liturgis ini, baik selama perayaan maupun di luar waktu perayaan, harus dipandang secara simbolik sebagai tempat penyelenggaraan karya keselamatan manusia, sehingga harus dibangun indah dan selaras.




-Ignatius Dimmas-

copyright parokivianney.org

Managed by