Ekaristi


Foto: Komsos Cilangkap

Berdasarkan polling data yang dikeluarkan Gollup (1992) tentang penghayatan Ekaristi di kalangan umat Katolik di Amerika, nampak bahwa hanya 30 % umat Katolik yang mengerti dan memahami makna Ekaristi; sedangkan 70 % umat Katolik ‘bingung’ atau memegang kepercayaan gereja lain yang bukan Katolik dalam memahami Ekaristi. Hal ini tentu memprihatinkan. Mari kita bertanya dalam hati kita, termasuk golongan manakah diri kita?


Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani (KGK 1327) dan hakikat serta rangkuman iman kita (KGK 1327). Ekaristi menjadi sumber dan puncak spiritualitas iman Kristiani karena melalui Ekaristi, kita diundang dan disatukan dengan Kristus sendiri dengan menyambut Dia dalam rupa roti dan anggur. Di dalam perayaan Ekaristi, kita ikut ambil bagian dalam Misteri Kristus sendiri, yakni misteri keselamatan umat manusia.


Ekaristi merupakan hakikat dan rangkuman iman kita. Ekaristi merupakan perjamuan Tuhan yang diadakan Kristus bersama para muridNya. Melalui Ekaristi, kita diajak untuk mengenangkan kisah hidupNya, sengsara dan kebangkitan Tuhan.


Saudara saudariku yang terkasih, dari paparan di atas kita dapat melihat dan merasakan bahwa makna Ekaristi sangatlah dalam bagi iman Katolik. Di dalam Ekaristi kita dikuduskan oleh Misteri Kristus sendiri. Setiap kali kita memakan tubuh-Nya dan minum darah-Nya kita diingatkan bahwa di dalam tubuh kita bersemayam Kristus yang kita sembah. Oleh karenanya, sudah selayaknya, hidup kita pun menjadi kudus; baik itu sikap, maupun tutur kata kita seharusnya juga mampu menguduskan orang di sekitar kita, memberikan kedamaian bagi hati kita dan orang di sekitar kita. Bila hal itu belum terjadi di dalam hidup kita, maka kita patut bertanya dalam diri kita, sejauh mana kita mengimani Ekaristi dalam hidup kita?


Bapa Paus Fransiskus dengan mengatakan, “Tidak ada gunanya jika seseorang rajin beribadah tetapi tidak berbuat baik dalam hidupnya sehari-hari”. Jika seseorang mengaku Katolik dan rajin ke Gereja untuk beribadah, namun kemudian tidak mau bicara dengan orang tua, tak mau membantu orang miskin dan menengok orang sakit, itu tak menunjukkan sama sekali iman kita, jadi percuma. Dalam hal ini Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa Ekaristis seharusnya memiliki daya sapa dan daya ubah bagi kehidupan manusia. Menyentuhnya dan menggerakkan manusia untuk senantiasa berbuat baik. Semoga Demikian.... Tuhan Memberkati.




-RD Angga Sri Prasetyo-

copyright parokivianney.org

Managed by