Dipanggil Menuju Keabadian


Ilustrasi: https://portalsulut.pikiran-rakyat.com/

“Banyak orang mati-matian hidup untuk mengejar segala sesuatu yang tidak bisa dibawa mati!” Uang, kedudukan, jabatan tinggi, popularitas, nama baik, privilege hidup menjadi sesuatu yang didambakan. Orang (modern) seringkali berprinsip: “Walau uang bukan segalanya, tetapi nyata (hampir) segalanya butuh uang!” Materi memang menjadi “primadona”, sebagai tempat kita menggantungkan harapan dan kebahagiaan kita hidup di dunia.


Jargon “Waktu Muda hidup foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga” mungkin juga sering singgah di pikiran kita. Efeknya, perwujudan segala kebaikan jatuh pada mentalitas materialistis, hedonistis, pragmatis, utiliaris, haus pujian, like, love, comment, subscribe, dan sebagainya yang membuat cinta kasih yang tulus (abadi) jadi barang langka. Mentalitas Do ut Des (saya memberi supaya menerima) terus diamini. Semua hal bisa jadi diukur dari keuntungan yang didapat. Perlahan nurani mati karena hati kian bisa dibeli oleh janji yang mengikis sanubari.


Sebagai orang beriman, kita mulai bertanya: Apakah yang dicari manusia? Yang sementara atau yang abadi? Yang fana atau yang baka? Apa yang sungguh dikehendaki-Nya untuk dijalani dan dihidupi dalam peziarahan di dunia ini? Dalam Surat Ibrani 13: 5 secara eksplisit dinyatakan: “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu!” Sesungguhnya menyandarkan hidup pada sesuatu yang bukan Allah (kekal) adalah suatu bentuk pelanggaran perintah Allah yang pertama (“Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaku saja...”). Uang dan materi adalah hal sementara yang memang kelihatan dan memberi jaminan, tapi tak pernah bersifat abadi. “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal!” (2 Kor. 4).


Yesus sendiri pernah menyatakan sikap yang khas dalam memandang uang/ materi yang disebut-Nya: mamon. Kisah “Bendahara yang Tidak Jujur” (Luk.16: 1-9) menunjukkan makna pentingnya materi, tetapi perlu digunakan dengan bijak sehingga tidak diperhamba oleh-Nya. “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” Dengan materi yang hanya sementara kita miliki, orang bisa melakukan banyak hal baik dalam hidupnya. Namun, ketika semua itu menjadi “prasyarat” dari harapan dan sukacita hidup kita, kemungkinan besar kita berada di jalan yang salah.


Kita ingat kasih ibu/ ayah kepada anaknya, guru kepada muridnya, imam kepada umatnya, pemimpin pada rakyatnya hingga kasih Kristus kepada kita. Ketika mereka bertindak bagai sang surya “hanya memberi tak harap kembali”, mereka sesungguhnya hidup untuk yang baka, bukan yang fana (1 Pet. 1: 23). Singkatnya, bukan karena kita sukses, berhasil, memiliki segalanya secara materiil baru kita bahagia dan bersyukur, tetapi justru karena kita memilih bersyukur dan bahagia, maka kita bisa sukses dan berhasil dalam hidup. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat. 6: 33). So, just do everything in your daily life with joyfulness!




-RP. Eduard Salvatore Da Silva, OFM-