Desember, Datangnya Natal dan Damai

Diperbarui: 30 Apr 2019


Gambar: https://hopeliveshere.ca

Desember adalah bulan yang penuh hiruk pikuk. Penghujung tahun dan semua seperti dikejar-kejar waktu. Tutup buku, laporan akhir tahun, laporan pertanggungjawaban yang belum selesai, penyerapan anggaran yang tidak sesuai target, lalu natal dan tahun baru yang di depan mata.

Bagi sebagian orang maka Desember adalah surga keuntungan, karena Desember bisa berarti natal yang siap dibisniskan. Maka wajar, Desember pun telah penuh dengan ornamen dan ucapan natal dimana-mana, di jalan-jalan, di pertokoan, di mall yang terkadang membuat Desember menjadi natal sejak awalnya. Sehingga semua ingin agar tak tertinggal dan kala Desember tiba, maka natal telah tiba pula.


Beruntung bagi kita orang Katolik, adven datang bersama Desember yang sibuk. Adven menahan gejolak natal tak meledak meski telah ditebar sejak awal. Walaupun Desember lalu seakan penuh sesak berdesak-desakan dengan adven yang selalu datang di awal Desember. Tapi adven bukan tanpa arti, karena pesan istimewa selalu diantar oleh pengantar yang istimewa pula. Dan adven adalah pengantar istimewa itu.


"Dia dinamakan Penasihat Ajaib, Allah Maha Perkasa, Bapa Kekal, Pangeran Perdamaian" (bdk. Yes 9:5), itu kata Yesaya tentang siapa yang diantar adven kepada kita. Dia yang datang itu membawa satu situasi yang dengan indah dikatakan Yesaya: "Serigala akan tinggal bersama domba, macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama dan seorang anak kecil akan menggiring mereka" (bdk .Yes 11:6). Damai. Itu yang tersirat dari Yesaya. Damai dibawa oleh pembawa damai.


Tapi Desember dan adven kali ini datang bersama Donald Trump yang mengejutkan. Trump tidak ingin serigala tinggal bersama domba, tidak ingin macan tutul berbaring di samping kambing. Trump dan mungkin juga kita sering tidak mampu mengerti Yesaya. Miris, tapi memperjelas maksud Yesaya bahwa pribadi yang tidak damai tidak mampu membawa damai.


Santo Fransiskus dari Asisi meninggalkan jejak indah bagi perayaan natal kini. Ia yang membawa natal pada kesyahduan dan keindahan kandang natal dengan lembu dan keledai yang menemani, tahu dengan baik paradoks Yesaya. Perjumpaan dengan damai itu menjadikannya bijak meminta: "Jadikanlah Aku Pembawa Damai", dan itu menegaskan Yesaya.



Hiasintus Sin

Sintang, 17 Desember 2017

copyright parokivianney.org

Managed by