Berkat: Dukungan Spiritual yang Meneguhkan


Saya ingat ketika masih kecil, sebelum berangkat sekolah senantiasa meminta doa dari kedua orang tua. Sebelum berangkat sekolah dan berangkat kerja, kami membiasakan untuk doa bersama yang dipimpin oleh ayah. Selesai berdoa, seperti biasa, saya menjabat tangan serta mencium tangan kedua orang tua saya. Dan, orang tua saya kerap memberikan tanda salib di dahi sebagai tanda berkat dari mereka. Biasanya disertai dengan nasehat, “jangan nakal”, “jangan ngobrol di kelas”, “belajar yang tekun”, dll. Kurang lebih, ada rutinitas demikian yang dilakukan pada pagi hari sebelum berangkat sekolah. Hal ini berjalan terus sampai dengan SMP. Bahkan, ketika saya merasa sudah cukup besar dan tidak membutuhkan berkat itu, kedua orang tua saya tetap memberikannya. Sedikit memaksa, dan saya melakukannya karena rasa hormat kepada mereka. Namun, dalam perjalanannya, apalagi ketika tidak lagi bertemu mereka setiap hari, seakan-akan ada kerinduan untuk menerima berkat tersebut. Lalu apa artinya berkat itu bagi seorang anak atau bagi anggota keluarga yang kita sayangi?


Hari ini bacaan-bacaan memberikan gambaran bagaimana berkat sangat meneguhkan setiap orang yang percaya kepada Tuhan. Abraham mendapatkan rahmat yang luar biasa, yaitu tanah, keturunan dan berkat. Tanah dan keturunan menjadi konkret yang diterima oleh abraham. Namun, menarik untuk merenungkan bagaimana berkat itu. berkat itu tampak dalam penyertaan Tuhan kepada Abraham. Keyakinan Abraham akan tanah baru dan keturunan yang berlimpah sangat diteguhkan dengan adanya berkat, yaitu penyertaan Tuhan yang tiada henti. Demikian juga berkat itu konkret dalam Injil, dalam rupa Yesus Kristus. Perubahan rupanya menjadi pertanda bagi para murid bahwa Yesus adalah berkat Allah yang menyertai. Nasehat Allah Bapa sangat sederhana, walau sulit dijalankan, yaitu mendengarkan Yesus. Cara hidup Yesus seluruhnya adalah pesan yang menyertai hidup kita manusia. Sederhananya, Allah mau mengatakan kepada kita, belajarlah dan contohlah Yesus. Buahnya akan jelas, yaitu sukacita yang berlimpah. Mereka yang mengikuti Yesus akan mengalami sukacita sebagaimana jemaat Filipi. Maka, pesannya sangat indah bagi setiap keluarga. Berkat bagi orang yang dicintai sangat meneguhkan, menumbuhkan kepercayaan diri dan membuahkan sukacita yang berlimpah.

Saya sendiri diteguhkan sebagai seorang imam, boleh dipercaya menjadi penyalur berkat bagi umat Allah. Setiap misa, pasti ada bagian berkat anak. Dan berkat anak di Bomomani jauh lebih banyak dibandingkan membagikan komuni kudus. Jumlah anak-anak begitu banyak....justru sangat banyak. Melihat begitu banyak anak, memberikan peneguhan tersendiri,

karena mereka wajah masa depan gereja dan kampung ini. Namun, sebagai seorang imam, sebagai penyalur berkat, ini adalah keistimewaan yang luar biasa. Bahwa setiap berkat yang tertera pada dahi mereka, pasti selalu ada harapan yang terbaik.


Ya, berkat merupakan doa, harapan dan penyertaan yang meneguhkan. Dalam hidup keseharian, memang ada imamat yg jadi jalan penyalur rahmat. Tapi berkat juga bisa diberikan oleh setiap orang, terutam para orang tua. Baik kalau mengawali hari dan menutup hari dengan memberikan berkat kepada anak, atau juga kepada orang yang dicintai. Berkat yang kita berikan menjadi tanda bahwa Allah senantiasa menyertai dan meneguhkan. Sukacita yang dirasakan pun juga oleh kita yang memberikan berkat. Kita semua dipanggil untuk menjadi pembawa berkat bagi orang lain. Bentuknya banyak, tapi mulailah dengan keluarga pertama-tama.



Rm. Ambrosius Lolong, Pr

Paroki Maria Menerima Kabar Gembira

Bomomani, Papua

copyright parokivianney.org

Managed by