copyright parokivianney.org

Managed by

Berani Membongkar Paradigma


Ilustrasi: medcom.id

Penjara. Siapa yang tidak takut mendengar kata itu? Membayangkan akan tinggal di dalamnya, membuat pikiran kita dipenuhi oleh hal-hal yang menyeramkan: orang bertato berwajah garang, sekelompok pencuri hingga pembunuh. Penjara kerap dikonotasikan dengan hal-hal yang negatif, sehingga otomatis kita merasa takut bila mendengar kata ‘penjara’ atau berurusan dengan hal-hal yang berkaitan dengan ‘penjara’.


Kunjungan perdana saya bersama beberapa teman ke penjara, sempat membuat saya was-was. Sejumlah bayangan negatif mengenai penjara berkelebat di pikiran saya. Rasa khawatir tak bisa saya hindari saat akan mendampingi para narapidana yang akan saya temui ini. Jangan-jangan, ada hal buruk saat saya memasuki penjara!


Namun yang terjadi sungguh berbeda. Bayangan orang-orang yang ‘sangar’, penuh tato seperti yang digambarkan di film, tidak saya temui. Para narapidana yang saya temui sangat ramah menerima kedatangan saya dan teman-teman. Ucapan ‘Shalom’ yang keluar dari mulut mereka sambil bersalaman, justru meneduhkan hati saya. Pikiran-pikiran negatif tentang mereka pun berubah menjadi pengalaman yang membahagiakan bersama mereka. Dalam perjumpaan itu, kami saling bertukar pengalaman iman yang sungguhsungguh membuat saya terharu.


Pengalaman titik nol yang sedang mereka alami ini mereka maknai sebagai pengalaman di mana Allah sungguh ingin menyapa mereka. Oleh karenanya, tiada lain yang dapat mereka lakukan selain mensyukuri segala hal yang telah Allah berikan kepada mereka. Saya tercenung mendengar sharing iman mereka. Saya sungguh belajar banyak dari mereka. Ketakutan itu berubah menjadi persahabatan.


Melalui pengalaman ini saya belajar, bahwa ketakutan selalu bermula dari kerangka pikiran yang ada dalam diri sendiri. Kerangka berpikir negatif tentang ‘penjara’, menjadikan saya berpikir dan memandang mereka yang ada di dalam penjara menjadi negatif. Kerangka berpikir negatif ini justru menciptakan rasa takut untuk dekat bersama para narapidana. Kerangka berpikir yang negatif ini justru membuat saya tak berani hadir untuk melayani mereka. Kerangka berpikir negatif ini membuat saya takut untuk berbuat baik bagi sesama. Rasanya seperti terbelenggu dalam pikiran saya sendiri. Kabar baiknya, hal ini dapat berubah ketika saya melihat kenyataan, ketika situasi tersebut ternyata berbeda jauh dari yang saya bayangkan. Belenggu dalam pikiran terbongkar ketika saya membentuk kerangka pikiran baru yang memberanikan saya untuk untuk berbagi kasih dengan mereka yang ada di penjara.


Kalau boleh jujur, kadangkala kita menjadi orang yang acuh terhadap mereka yang membutuhkan karena rasa takut atau curiga yang mendominasi pikiran kita sendiri. Selalu saja ada pikiran, “jangan-jangan dia begini...atau jangan-jangan dia begitu”. Namun, bagaimana kita bisa memulai perbuatan baik, bila kita selalu memiliki rasa takut dan curiga terhadap mereka yang membutuhkan? Saatnya berani membongkar kerangka berpikir yang dapat menghambat kita untuk berbuat baik. Apakah kita siap melakukannya?



-RD Angga Sri Prasetyo-