Bahan Dasar Iman: Mencobai atau Mengandalkan Tuhan

Diperbarui: 2 Mei 2019


Gambar: https://www.ucg.org

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui ada beberapa hal sederhana yang kalau diperhatikan sungguh menjadi cerminan dalam beriman. Kali ini saya ingin merenung tentang bahan dasar. Ketika pertama kali saya datang dan disambut di paroki bomomani, papua, ada banyak hal yang menarik, salah satunya adalah roti berkat. Roti ini dibuat oleh mama-mama dalam jumlah yang sangat banyak. Roti kemudian didoakan, diberkati lalu dibagikan kepada setiap orang yang datang menyambut. Omong-omong soal roti, apa bahan dasar roti? Tepung terigu. Demikian juga dengan makanan-makanan yang lain. Tiap masakan memiliki bahan dasarnya. Masak orek tempe tentu harus ada tempenya, masak sayur asam harus ada asam jawanya, dll. Tiap makanan yang dibuat tentu ada bahan dasar atau bahan pokoknya sehingga jadilah makanan tersebut.


Lalu, kalau dalam beriman, apa bahan dasar atau bahan pokoknya? Bacaan hari minggu prapaskah I memberikan jawaban yang pasti mengenai bahan dasar dalam beriman. Musa membuka ingatan bangsa Israel mengenai hidup mereka yang disertai oleh Allah mulai dari jaman Abraham sampai dengan pembebasan dari Mesir. Demikian juga dengan Surat Paulus kepada Jemaat di Roma bahwa Allah itu dekat dengan hidup manusia. Artinya, Allah menyertai perjalanan hidup harian umat. Keduanya jelas bahwa hidup manusia senantiasa diberikan jalan yang terbaik oleh Allah. Namun, pilihan sikap manusia selalu menjadi keputusan kita. Apa pilihan kita? Pilihan kita adalah pilihan yang Yesus ajarkan. Tiga kali Yesus menerima godaan untuk kemuliaan dirinya semata. Tetapi, Yesus menegaskan bahwa makanan, kekuasaan dan penyertaan Allah adalah rahmat yang, bukan untuk digunakan untuk mencobai Allah, melainkan untuk mengandalkannya di dalam hidup. Yesus mengajarkan bahwa relasi dasar iman kita kepada Allah adalah terus menerus mengandalkan Tuhan. Mengapa mengandalkan Tuhan? Jawabannya sederhana diminta maupun tidak diminta, Allah telah, sedang dan akan menyertai.


Konkretnya, kita sudah memasuki masa pantang dan puasa. Masa-masa ini bukanlah masa untuk mengukur seberapa kuat diri kita, sehingga tidak lagi mengandalkan Tuhan. Apalagi menjadi masa-masa ini sebagai ajang diet ketat demi mendapatkan tubuh yang ideal. Tentu bukan itu tujuannya. Justru di masa awal pantang dan puasa ini, kita diingatkan untuk kembali menemukan dasar iman kita. Apa bahan dasar iman kita? Mencobai Tuhan demi kemuliaan diri sendiri? Atau mengandalkan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari? Sekali lagi ini adalah kesempatan bagi kita menjernihkan perjalanan tobat kita. Tobat bukan hanya berarti bahwa kita berani terbuka terhadap Tuhan atas dosa dan kelemahan melainkan berani mengandalkan Tuhan yang senantiasa menguduskan kita dari hari ke hari.


Selamat memasuki masa prapaskah. Selamat menjernihkan semangat tobat.



Rm. Ambrosius Lolong, Pr

Paroki Maria Menerima Kabar Gembira

Bomomani, Papua

copyright parokivianney.org

Managed by