Antara Prasangka dan Pengharapan



Kadang kala terjadi salah paham antara apa yang kita pikirkan dengan apa yang senyatanya kita alami. Ada ungkapan, “saya mengira.....”. Ketika hendak mengumpulkan tugas

sekolah atau tugas kuliah tetap ternyata tidak mengerjakan, biasanya alasan yang muncul adalah “saya kira tugasnya untuk minggu depan.” Saya pun demikian. Mungkin ada banyak hal lain yang kejadian serupa dengan kejadian sederhana di atas tadi. Setiap orang membutuhkan alasan atas kelalaian yang terjadi dalam dirinya. Namun, alasan tersebut juga bisa terjadi karena apa yang kita pikirkan tidak sejalan dengan yang terjadi.


Berbeda dengan “saya mengira.....”, ada istilah lain, yaitu saya berharap. Sejak kita kecil,

sebenarnya kita sudah diajarkan untuk berharap, bukan mengira-ngira. Kok bisa? Ya dengan hal yang sangat sederhana, yang kita kenal dengan istilah cita-cita. Berapa orang yang cita-cita sejak kecilnya sejalan sampai dewasa? Sangat sedikit sekali. Hal ini mau menunjukkan bahwa pengharapan membantu manusia mengarahkan hidup menjadi lebih baik. Bukan berarti mewujudkan cita-cita adalah yang paling baik. Cita-cita adalah sarana bagi manusia untuk mengarahkan hidupnya kepada tujuan hidup yang lebih baik. Berbeda antara “saya mengira” dengan “saya berharap”. Yang pertama berorientasi pada hasil untuk diri sendiri. Yang kedua berorientasi pada tujuan hidup yang lebih luas. Yang pertama tidak terbuka terhadap segala kemungkinan. Yang kedua sangat terbuka pada segala kemungkinan.


Minggu prapaskah III, kita dihantar untuk menggerakkan diri kita dari prasangka menuju pada suatu pengharapan. Permenungan yang indah ditampilkan lewat bacaan yang kita dengar dan kita renungkan bersama ini. Musa berjumpa Tuhan dalam rupa semak duri yang terbakar. Tetapi inilah indahnya, dalam prasangka Musa, mana ada semak duri dengan api yang menyelimutinya tidak membuat semak tersebut habis terbakar? Tentu, jawabannya adalah mustahil. Musa memilih untuk maju dan memperhatikan lebih dekat. Tetapi, Tuhan menghendaki dia untuk melepaskan kasutnya dan berbincang kepada-Nya. Musa memilih untuk mendekat, melepaskan kasutnya dan berbincang dengan Allah. Pilihan hidup Musa mengalahkan prasangka manusiawi dan masuk dalam suatu pengharapan yang dia sama sekali tidak tahu.

Demikian pula dalam Injil, Yesus merubah paradigma para murid. Apakah keselamatan orang ditentukan dari nasibnya? Yesus hanya memberikan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Sudah tiga tahun pohon itu tidak berbuah dan pohon itu hendak di tebang. Perkiraan manusia, pohon ara dalam tiga tahun sudah berbuah beberapa kali. Artinya dalam perkiraan manusia, tidak ada lagi yang bisa diperjuangkan dari pohon tersebut. Tapi pengurus kebun anggur itu merubah pandangan sang tuan dengan memohonkan satu tahun lagi. Prasangka manusiawi digerakkan menuju pada suatu pengharapan. Padahal, tahun depan, belum tentu pohon itu akan berbuat lagi.


Tidak mudah bagi kita untuk bergerak dari prasangka menuju pada suatu pengharapan. Yesus mengajarkan bahwa keselamatan bukanlah suatu prasangka atau perkiraan. Keselamatan merupakan pengharapan terus menerus yang diperjuangkan. Keselamatan adalah cita-cita yang mengarahkan hidup manusia pada tata kehidupan yang lebih baik. Keselamatan bukanlah hasil melainkan jejak langkah perlahan, kadang tidak terlihat, mungkin juga gelap, tetapi terarah semakin dekat dengan Allah.


Sedikit berbagi, ketika ditawarkan tugas pastoral ke Bomomani, ada begitu banyak prasangka yang membuat saya cemas, sesekali pun terbersit penyesalan menerima tugas perutusan ini. Saya menyadari betul karena pikiran manusiawi saya dipenuhi berbagai perkiraan, juga dengan keterbatasan yang sekiranya terjadi. Namun, selalu ada harapan dalam hati saya, yaitu saya mau menemukan Tuhan dimana pun saya diutus. Maka, ketika diminta Rm. Uskup, saya mengatakan “ya” dengan harapan, di sana pun saya tidak akan ditinggalkan Tuhan dan pasti menemukan Tuhan. Selama menjadi frater dan menerima tugas perutusan di mana saja, saya selalu bahagia dan bisa menemukan Dia. Lalu mengapa sekarang ini saya tidak berani melangkah?


Sederhana, apakah aku siap untuk bergerak dari prasangka menuju ke pengharapan? Kadang gelap, tidak terlihat, tidak ada kepastian, tetapi memberikan hidup yang baru. Mulailah bergerak dari prasangka manusiawi menuju pada pengharapan hidup ilahi. Selamat bermenung.




Rm. Ambrosius Lolong, Pr

Paroki Maria Menerima Kabar Gembira

Bomomani, Papua

copyright parokivianney.org

Managed by