Antara Kubur Kosong dan Murid Yang Lain

Diperbarui: 30 Apr 2019


Gambar: http://reformed.sabda.org

Victimae Paschali merupakan Sekuensia untuk Minggu Paskah yang wajib dinyanyikan sebelum Alleluya. Berikut ini kutipan dari Sekuensia Paskah yang sangat indah ketika kita dengarkan pada perayaan Kebangkitan Tuhan.


Katakan, Maria, yang kaulihat di jalan!

Kubur dan kemuliaan Sang Kristus yang hidup serta bangkit:

Saksi malaikat, kain peluh dan kafan.

Kristus, harapanku bangkit, mendahului ke Galilea.

Kita yakin Kristus bangkit dari kematian: Kau Raja Pemenang, kasihanilah.


Injil Yohanes 20:1-9 dan Sekuensia Paskah yang kita dengarkan pada perayaan Minggu Paskah sama-sama berbicara soal Maria Magdalena, kubur, kain kafan, dan berpuncak pada Kristus yang bangkit dari kematian. Kristus yang bangkit dari kematian adalah puncak iman kita sebagai orang Katolik, sekaligus penuntasan keselamatan yang dijanjikan oleh Allah. Maka, dalam Sekuensia Paskah, Kristus disebut sebagai Raja Pemenang. Kebangkitan Kristus telah memenangkan diri kita dari segala dosa dan kelemahan kita. Demikian pula yang terjadi dengan Maria Magdalena, Simon Petrus, dan murid yang lain. Kematian Yesus membuat situasi batin mereka krisis, carut marut, dan galau. Ditambah lagi, mereka semua panik ketika melihat kubur Yesus yang kosong. Kubur yang kosong ini bisa melambangkan hati mereka yang “kosong” dan tidak mengerti mengapa harus ditinggalkan oleh Sang Guru Sejati.

Injil Yohanes tidak memberikan penjelasan akan siapa sebenarnya “murid yang lain” itu. Penginjil Yohanes tidak menyebut siapa nama “murid yang lain”. Menarik untuk kita telaah bagaimana sikap murid yang lain ketika ia mendapat kabar dari Maria Magdalena bahwa Tuhan telah diambil orang dari kuburnya. Murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus. Tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Apa yang sebenarnya dialami atau dirasakan oleh murid yang lain? Ya, ia sempat merasa ragu, takut, kurang percaya, atau mungkin bercampur rasa ingin tahu. Kemudian, ketika Simon Petrus masuk ke dalam kubur itu, murid yang lain baru ikut masuk, melihat, dan percaya.


Sikap murid yang lain yang berlari lebih cepat menandakan rasa cintanya yang begitu besar kepada Yesus Kristus. Namun, semua berubah ketika apa yang terjadi benar-benar tidak sesuai dengan apa yang ada dalam bayangannya. Maka, ia tidak berani masuk. Kadang cinta kita kepada Kristus selalu ditantang dan menjadi goyah ketika apa yang terjadi di dalam hidup ini tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Figur murid yang lain ini menantang kita supaya berani “mendobrak keragu-raguan” dan masuk ke dalam kubur yang kosong. Kubur yang kosong ini sebenarnya telah “diisi” dengan Sang Kristus yang hidup dan bangkit sebagaimana dikidungkan dalam Sekuensia Paskah. Hati kita yang kosong ketika menghadapi ketidakberdayaan dalam hidup selalu diisi oleh Kristus.


Marilah kita menyambut Paskah tahun ini dengan penuh kepercayaan akan Kristus yang telah bangkit. Di tengah situasi kekosongan batin dan pikiran kita, Kristus yang bangkit telah mengisinya dengan harapan dan cinta yang lebih besar. Berkat kebangkitan Kristus, kita dimampukan untuk terus melangkah maju dengan apapun yang terjadi di dalam perjuangan hidup sehari-hari.


SELAMAT PASKAH 2019!

TUHAN MEMBERKATI KITA.




Fr. Joseph Biondi Mattovano

copyright parokivianney.org

Managed by