Allah Mengenal, Memanggil, dan Memilih


Foto: Komsos/ Pane

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:27-30)


Paus Fransiskus pada Pesta Hati Kudus Yesus pernah menyampaikan kepada para imam, “Janganlah pernah melupakan cinta pertamamu.” Yang dimaksud dengan cinta pertama adalah kenangan Tuhan menyentuh hati para imam dan memanggilnya untuk mengikuti Dia. Kenangan itu merupakan kenangan sukacita. Masih dalam suasana Minggu Panggilan yang dirayakan di seluruh Gereja Paroki, perjalanan panggilan merupakan pengalaman cinta dan kerahiman Allah. Dari situ siapa saja yang merasa dipanggil oleh-Nya akan merasakan sungguh hati seorang Gembala yang sejati. Seperti bacaan Injil yang dikutip di atas, berkat kerahiman Allah, kita akan merasa disambut, dikenal, dan akhirnya diterima apa adanya diri saya. Dari situlah segala dosa dan kelemahan kita bukan semata menyurutkan semangat orang-orang yang terpanggil untuk meniti jalan panggilan, melainkan justru membuatnya semakin merasa dipilih dan dicintai. “Seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku”


Dalam renungan ini, saya mengutip kata-kata dari doa para imam yang kiranya acocok untuk menggambarkan betapa luar biasanya campur tangan Allah. Allah memanggil, memilih, dan akhirnya menangkap seorang imam untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus Sang Gembala Baik. Seorang imam bukanlah miliknya sendiri, apalagi kelompok A B C, Paroki D E F, keluarga X Y Z, dan sebagainya. Seorang imam adalah milik Kristus Sang Imam Agung dan Gembala kita. “Tuhan terkasih kuberdoa padamu lindungilah para imam-Mu karena mereka milik-Mu. Hidup mereka biar terbakar luluh di hadapan altar-Mu,ya Tuhan. Lindungilah mereka sebab mereka ada di dunia, sekalipun mereka bukan dari dunia. Lindungilah mereka selalu dan ingatlah, ya Tuhan. Tak seorangpun selain Engkau yang menjadi miliknya. Bila pengorbanan mereka bagi jiwa-jiwa terasa sia-sia tiada berguna, lindungilah mereka selalu dan ingatlah, ya Tuhan.” (Doa untuk Para Imam)


Seorang imam memang seringkali disebut sebagai seorang gembala yang dalam arti tertentu memiliki jabatan imamat khusus. Meski demikian, seorang imam tetap diajak untuk menyadari dirinya sebagai domba. Domba yang selalu mendengarkan suara Allah. Kesadaran ini diperlukan supaya seorang imam selalu berani meletakkan dan memposisikan dirinya sebagai kurban yang dengan rela hati mempersembahkan dirinya bagi pelayanan. Pengurbanan diri seorang imam tentu tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Allah. Aspek pengurbanan ini juga selayaknya perlu diteladani oleh kaum awam yang dalam hidup sehari-hari mengabdikan diri bagi Gereja maupun masyarakat dengan caranya masing-masing. Inilah yang dalam ajaran iman dan tradisi Gereja kita disebut sebagai ikut ambil dalam imamat umum.



TUHAN MEMBERKATI.

Frater Diakon Joseph Biondi Mattovano

copyright parokivianney.org

Managed by