Setia Itu 'Gila'


Ilustrasi: rimma.co

Seperti biasa, program liburan sudah aku rencanakan jauh-jauh hari. Tak sabar rasanya untuk berjumpa dengan keluarga, rekan komunitas seminari tinggi, serta sahabat-sahabat dekat yang senantiasa mendukungku dalam menjalani panggilan.Ada satu program besar yang harus aku dahulukan sebelum berlibur, yaitu pergi ke Jawa Timur untuk nyekar ke makam leluhur di Kediri dan Surabaya bersama keluarga besar dan berziarah ke Gua Maria Pohsarang.


Nah, aktivitasku yang terakhir inilah yang memberikan pengalaman mengharukan sekaligus menjadi refleksi akan panggilanku sebagai seorang imam. Di Goa Maria Pohsarang, aku berjumpa dengan Pak Christian, seorang bapak paruh baya berdarah Tionghoa dan berasal dari Tangerang. Sudah hampir tiga tahun iniia tinggal di Pohsarang. Hari-harinya ia habiskan dengan menyapu dan membersihkan komplek pemakaman di sekitarnya. Hidupnya bergantung pada belas kasih orang-orang yang berkunjung ke sana.


Sejak istrinya meninggal dan disemayamkan di Pohsarang tiga tahun lalu, ia memilih ‘menetap’ di sana. Setiap hari ia selalu membersihkan dan meletakkan beberapa tangkai bunga kesayangan istrinya di kanan-kiri nisan sang istri. Anak semata wayang dan sanak saudara yang lain tidak dapat menerima perilakunya yang dianggap ‘gila’ ini. Sudah seringkali keluarga membujuk Pak Christian untuk kembali ke rumah, namun ia menolaknya. Akhirnya keluarga lepas tangan. Mereka tidak mau lagi menjenguk Pak Christian, pun memberi biaya hidup sehari-harinya.


Hati memang senantiasa memiliki alasan tersendiri yang kadang tidak dapat dimengerti oleh rasio. Pengalaman Pak Christian membuktikan hal itu. Karena cintanya terhadap sang istri, ia setia menemani sang istri di tempat peristirahatannya yang terakhir. Secara nalar, hal itu ‘gila’, tapi bukankah kesetiaan itu kadang dipandang ‘gila’ di zaman modern?


Begitu pula pilihan menjadi pastor untuk beberapa orang kedengarannya ‘gila’. Para pastor memegang teguh tiga nasihat Injil: selibat, kesederhanaan, dan ketaatan. Ketika banyak orang mengejar kepuasan materi, para pastor berusaha hidup sederhana, mencukupkan apa yang dimilikinya. Ketika orang banyak ingin mendapatkan kebebasan seluasluasnya, pastor justru menyerahkan kebebasan untuk mengucapkan janji setia selamanya. Belum lagi pilihan berselibat demi Kerajaan Allah. Kesetiaan memang ‘gila’. Tapi kegilaan itu tentu memiliki makna terdalam yang ingin diperjuangkan, dan kerapkali orang sulit memahaminya. Tetapi hati memang punya alasan tersendiri. Terima kasih Pak Christian, karena telah memberi motivasi bagiku untuk berani ‘gila’ demi sebuah kesetiaan akan panggilan suci ini.




-RD Angga Sri Prasetyo-

copyright parokivianney.org

Managed by