Mengampuni itu Menyembuhkan


Ilustrasi Foto: impresa.prensa.com

Ini merupakan suatu pernyataan positif yang memberikan kepastian dan jaminan akan hal yang sangat dinantikan, suatu keadaan yang dirindukan, suatu perubahan yang nantinya akan segera didapatkan, yaitu : Kesembuhan, Kebahagiaan, Keterlepasan. Hal ini sangatlah senada dengan sifat dasariah manusia yang cenderung mencari dan mendambakan kebaikan serta jauh dari penderitaan, dan terus mencapai kesempurnaan. Itulah harapan semua orang dikala mengalami penderitaan, sakit dan musibah.


Sebagai seorang kristiani yang berimankan Yesus Kristus, kita mengimani bahwa Allah sungguh mencintai kita umatnya. Allah mengangkat dan membawa kita kepada keselamatan, kepada kebahagiaan kekal. Allah tidak menginginkan kita “jauh” dariNya. Dia senantiasa “menarik” kita ke dalam pangkuanNya, memberikan Kasih secara total kepada kita. Kita dijaga olehNya.

Demikian pula halnya dengan kesembuhan. Kesembuhan merupakan suatu keadaan yang memampukan seseorang untuk dapat bergembira, untuk bersukacita, dan untuk melakukan banyak hal. Kesembuhan ini sendiri pada hakekaatnya tidak lain sebagai konsekuensi dari tuntutan panggilan hidup kristiani: “menguduskan”.


Dengan menguduskan, seseorang diajak untuk membersihkan diri, menyediakan tempat bagi kehadiran Roh Allah, membiarkan Roh Allah hadir dan bekerja dalam diri kita. Roh Allah yang kudus akan membebaskan segala belenggu diri dari “keterikatan” semu. Ia pasti memberi kelegaan, dan tentunya membawa kesembuhan bagi setiap pribadi yang beriman kepadaNya.

Pengudusan ini juga memuat unsur pengampunan sebagai perwujudan sikap kasih. KasihNya yang “satu dan tak terbagi” memampukan kita untuk menampilkan wajah Allah yang Mahakasih. Kita menjadi “citra”Nya, kita turut andil dalam pencerminan KasihNya, yang tidak lain terwujud pula dengan sikap mengampuni. Sebagaimana Allah yang adalah Kasih, demikian pula kita menjadi dan memberi kasih pengampunan kepada sesama.


Sebagai citra Allah, kita dituntut untuk membawa Allah dalam segala keberadaan kita, dalam setiap perkataan dan perbuatan kita. “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan kepada orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Sangat jelas bagaimana kita sebagai seorang kristiani terpanggil dengan seluruh diri kita, memberikan “kebahagiaan”, kelegaan, keterlepasan, sebagai tampilan wajah Allah yang Mahakasih.


Dengan terpancarnya Kasih Allah dalam pengampunan, hal tersebut memberikan jaminan akan “kesembuhan”, suatu jaminan akan kebebasan atas keterikatan belenggu, baik secara jasmani maupun rohani. Dan ini tentunya hanya dapat diperoleh dengan adanya sikap “mengampuni” . Lalu muncul pertanyaan bagi kita, sikap mengampuni macam apa yang membawa “kesembuhan” ini? Atau mengapa dengan mengampuni, seseorang mengalami kesembuhan? Pengampunan yang diterima menjadi syarat mutlak bagi seseorang agar memperoleh rahmat kesembuhan, yang membebaskannya dari belenggu sakit dan dosa.


Kita pun dapat mengkajinya lebih jauh lagi, bahwa kesembuhan ini dapat bersifat lahiriah maupun batiniah, baik jasmani maupun rohani. Secara lahiriah kita dapat mengukurnya dari segi jasmani, fisik, maupun raganya. Tubuh manusia sangat rentan dengan berbagai sakit penyakit. Dan karena yang sifatnya tersebut, butuh pendukung lain agar membuatnya menjadi sehat dan kuat. Namun demikian, tubuh secara jasmini tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk tidak sakit, ia tidak kuasa menolak rusaknya beberapa jaringan/organ/ atau fungsi tubuh lainnya. Semuanya saling berhubungan dan mengakibatkan terjadi sakit yang tidak bisa dielakkan. Ketika tubuh tidak bisa “mengobati” dirinya sendiri, maka “membutuhkan” Tuhan untuk menyembuhkannya. Kita merindukan kehadiran “kuasa” lain yang mampu memberi kesembuhan. Disinilah Kasih Allah memainkan perananNya. Dia yang adalah Kasih tidak akan membiarkan umatNya menderita. Banyak kisah bagaimana Yesus memberikan mukjizat kesembuhan fisik kepada orang sakit, bahkan orang mati pun dibangkitkanNya. Kuasa kasih pengampunan Allah membawa kesembuhan jasmani. Demikian pula kita hendaknya bisa memberikan kasih pengampunaan kepada orang lain, sehingga hal tersebut dapat berdampak pada kesembuhan secara fisik, perubahan yang nyata dari kondisi tubuh yang sakit berangsur-angsur menjadi baik. Di sini dapatlah dipahami bahwa berkat kasih pengampunan, seorang sakit dapat memperoleh kesembuhan fisik.


Bila kita lihat dari sisi lain, kesembuhan di sini terkait dengan kesembuhan jiwa, psikis, maupun rohani, lebih mengarah pada situasi batin. Tidak dipungkiri setiap dari kita pasti mempunyai dan mengalami beban hidup yang beragam. Banyak pengalaman dalam hidup yang membuat kita menjadi “sakit”, kita tidak bisa menerimanya, kita berusaha menolak bahkan ingin “mengubur”nya sedalam-dalamnya, kita mengalami luka batin yang harus kita terima. Di sini kita sangat membutuhkan “penolong” yang dapat membebaskan dari “penderitaan” luka batin. “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan.” Kembali Kasih Allah nampak begitu besar bagi kita. Dia senantiasa memberi kebahagiaan bagi kita. Dan dengan rahmat kasih pengampunan, kita menjadi tenang, lalu kebahagiaan dan sukacita tersebut akan melingkupi hidup kita. Seseorang yang mengalami kesembuhan batin, jiwanya akan mengalami kebahagiaan, mengalami sukacita dan kegembiraan. Ia terlepas dari luka-luka batin.


Lalu apa yang menyebabkan seseorang mendapatkan kesembuhan? Atau sikap apakah yang harus dimiliki seseorang untuk mendapatkan kesembuhan? Dalam hal ini kita dapat memahaminya dari dua aspek, yaitu terkait dengan diri sendiri dan terkait dalam relasinya dengan orang lain.


Terhadap diri sendiri, sikap yang harus ada untuk memperoleh kesembuhan yaitu: Pertama: Berdamai dengan diri sendiri. Ia harus bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya, harus bisa menerima segala peristiwa masa lalunya, menyatukan dalam dirinya, dan menjadikannya sebagai “modal “ kekuatan di masa depan. Bila seseorang belum bisa berdamai dengan diri sendiri, bagaimana mungkin ia akan membuka hati dan diri akan orang lain. Kesembuhan akan terjadi apabila kita bisa dan sudah berdamai dengan diri kita dan dengan berkat Kasih Allah sendiri.


Kedua, sikap batin untuk senantiasa bertobat. Dengan pertobatan, seseorang bisa menerima diri, mengakui segala kesalahannya, bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan orang lain. Ia menjadi pribadi yang terbuka dan siap untuk maju, siap untuk mengalami perubahan hidup menjadi lebih baik lagi. Pertobatan menjadi sarana pembersihan diri dan batin, menjadi pendukung untuk menyiapkan tempat bagi Allah. Dengan pembersihan diri, ia dengan sendirinya “menguduskan” tubuhnya, memberikan tempat Roh Allah hadir dan bekerja. Ketika Roh Allah bekerja, niscaya kesembuhan akan datang.


Ketiga, sikap terbuka pada Karya Penyelenggaraan Ilahi. Pertobatan yang telah dijalankan oleh seseorang, secara otomatis akan membuka pintu berkah dari Allah. Dirinya siap menerima dan mengalami “pembaharuan” dalam kerangka rencana karya Keselamatan Allah. Allah akan senantiasa hidup dan berkarya dalam diri kita. Iman akan Allah pasti membawa kesembuhan, baik jasmani maupun rohani.


Keempat, membina dan mendengarkan suara hati. Suara hati tidak lain adalah “suara” Allah sendiri. Dengan rajin dan selalu mendengar suara hati, kita secara tidak langsung menjalankan dan “menghidupi” kehendak Allah. Bila kita tidak menghiraukan suara hati, maka suara hati itu akan “tumpul” dan mati bila kita tidak menjaganya. Pembinaan suara hati harus berjalan dalam terang Roh Allah.


Aspek lainnya yang dibutuhkan dalam mendapatkan kesembuhan bila dikaitkan dengan relasi terhadap orang lain, yaitu: Pertama, senantiasa memberi pengampunan atas kesalahan dan dosa orang lain. Seperti kita ketahui bahwa panggilan kristiani adalah menguduskan. Dengan pengampunan yang kita diberikan, kita menguduskan orang tersebut, kita memberikan kebabasan dan kelegaan terhadapnya. Dengan demikian orang yang kita “kuduskan” tersebut diharapkan dapat berefleksi dan mengoreksi diri. Kita memberi contoh untuk saling mengampuni seperti Allah sendiri yang senantiasa memberikan kasih pengampunan kepada kita semua.


Kedua, memberi harapan dan sukacita bagi orang lain. Seseorang yang diampuni kesalahan dan dosanya, ia akan mengalami “pembebasan”, kelegaan, keterlepasan, dan kebahagiaan serta pengharapan kekal. Pengampunan yang kita berikan membuka harapan seseorang akan jaminan keselamatan, jaminan akan kesembuhan itu sendiri, yang berujung pada kebahagiaan.


Ketiga, membuka hati dan diri pada Rahmat Allah. Mengikuti kehendak Allah merupakan salah satu cara untuk memahami dan mengalami Cinta Allah, secara khusus dalam hal memperoleh kesembuhan. Keterbukaan diri akan Kasih Allah berarti membiarkan Allah meraja atas hidup kita, membiarkan Dia berkarya dan menyempurnakan kita.


Demikianlah beberapa hal yang dapat kita lihat bersama dari sebuah sikap pengampunan. Dengan pengampunan, kita membuka jalan bagi Allah masuk dan berkarya dalam setiap diri kita. Kasih pengampunan Allah tidak terhingga dan berlimpah atas kita. Dan dengan KasihNya inilah Ia memberikan kita suatu kesembuhan. Kesembuhan itu sendiri adalah tanda Cinta Allah bagi kita, di mana Allah pertama-tama memberikan pengampunan atas dosa-dosa kita. Dengan demikian kesembuhan akan terwujud.


Allah sungguh mencintai kita umatNya. Ia membebaskan kita dari belenggu sakit dan dosa. Ia mengampuni segala kesalahan dan dosa agar kita mengalami “kesembuhan” baik jasmani maupun rohani. Dengan demikian dapatlah kita imani dan hidupi semangat untuk saling mengampuni. Secara manusiawi tidaklah mudah bagi kita untuk melakukan hal tersebut. Keegoan kita terkadang mendominasi dan mempengaruhi kita. Namun harus diingat, Allah sudah sejak awal memberikan pengampunan bagi kita, maka senantiasalah kita untuk mengikutiNya juga. KasihNya besar dan tak terkira, memberikan kebahagiaan bagi kita semua. Sama seperti Allah yang adalah Mahakasih, demikian pula kita harus memberi kasih pengampunan kepada orang lain. Pengampunan yang datang dari hati yang tulus, akan membawa kesembuhan dan sukacita.


“Mengampuni, mengampuni lebih sungguh

Mengampuni, mengampuni lebih sungguh

Tuhan lebih dulu mengampuni kepadaku

Mengampuni, mengampuni lebih sungguh”



-Sigit Adinugroho-

copyright parokivianney.org

Managed by