Memaknai Kaum Muda Di Era Milenium


Ilustrasi: www.voi.id

Bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa lain ratusan tahun lamanya. Pengalaman pahit dan getir inilah yang mendobrak dan mendorong bangsa kita bersatu padu, bergandengan tangan untuk serempak mengusir penjajah dari negri ini, tanpa memandang suku, agama dan status sosial. Sumpah Pemuda yang mengikrarkan “satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu Indonesia, merupakan ikrar sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).”


Kesatuan dan persatuan ini hendaknya dilestrikan. Generasi melenial saat ini perlu menghargai dan melanjutkan perjuangan para pendahulu yang berjuang sampai berdarah-darah. Adalah menjadi kewajiban bagi setiap kita untuk memelihara kesatuan persatuan Bangsa. Sebagai kaum muda, “Apa yang bisa kita sumbangkan kepada negara ini?”


Masa muda merupakan masa emas untuk memaksimalkan potensi, baik dalam berperilaku, tutur kata, kasih setia, kesetiaan, ketekunan dan kesucian. Seiring dangan bertambahnya banyak hal yang baru di era modern saat ini, maka semakin berkembang pula kaum muda milenial sebagai penerus “Nusa Bangsa dan gereja.” Kaum muda kristiani hendaknya menjadi teladan hidup bagi pemuda-pemuda yang lain. Dengan apakah seorang pemuda mempertahankan kualitas hidup dan kelakuan yang baik? Pemazmur mengatakan, “Hanya dengan firman Tuhanlah anak muda dapat mempertahankan kwalitas kelakuanya yang baik-bersih dan sesuai dengan kehendak Tuhan (Maz.119: 9).


Dengan demikian maum muda kristiani perlu mengikuti dan terlibat banyak dalam kegiatan-kegiatan rohani. Semakin banyak mendengarkan dan membaca firman Allah semakin kuat imannya, “iman timbul oleh pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Rm.10: 17). Tuhan menghendaki supaya anak-anak muda memiliki hidup yang berkuwalitas, menjadi orang-orang muda yang kristiani yang berbeda dengan anak-anak muda yang di luar sana. Rasul Paulus berpesan: “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu dan dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetianmu, dan dalam kesucianmu.” (1 Tim.4: 12).


Setiap kita diberi karunia yang berbeda-beda oleh Allah namun satu “Roh” dan satu tujuan untuk melaksanakan kehendah Allah yaitu membangun Kerajaan Allah di dunia. Surat Paulus kepada umat di Korintus mengatakan “Rupa-rupa karunia tetapi satu Roh.” (Bdk. 1 Kor. 1: 1-12). Dengan demikian kita sebagai orang “Kristen Katolik” adalah perlu turut serta mengembangkan kerajaan Allah di dunia ini sesuai dengan karunia yang Allah berikan kepada kita.


Mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara kita yang Allah anugerahkan. Mari kita merajut kembali kesatuan persatuan yang sudah koyak dan robek. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik turut membangun negara dan bangsa yang tercinta yakni membangun bumi Nusantara sebagai negeri yang aman damai adil dan makmur.


Dengan semboyan: “berikan kepada “Raja/Kaisar” yang menjadi hak “Raja/Kaisar” dan berikan kepada Tuhan yang menjadi hak Tuhan (Bdk. Mt.22:21).” Yang merarti setiap kita adalah warga negara yang baik dan insan yang meriman akan Allah Yang Esa. Nasib bangsa indonesia yang akan datang terletak pada pemuda-pemudanya. Demikian pula nasib Gereja di Indonesia ini, pada pemuda-pemuda Katolik-nya.




-RD Nico Jumari