top of page

Makna Kasih dalam Doa St Fransiskus dari Asisi

10 Apr
3 menit membaca

Tahun ini, Paus Leo XIV menetapkan Tahun Yubileum Khusus St. Fransiskus Assisi dimulai dari 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027. Perayaan ini memperingati 800 tahun wafatnya St. Fransiskus Assisi dan menjadi momen rahmat untuk memperbarui iman, kesederhanaan, serta perdamaian, dengan kesempatan indulgensi penuh bagi umat beriman. 


Bicara soal Santo Fransiskus dari Asisi ini kita tak bisa lepas dari “Doa St. Fransiskus Asisi”. Maka renungan singkat ini berangkat dari doa yang sangat dikenal dalam tradisi Gereja Katolik ini. Doa yang sederhana, namun tajam seperti cermin bagi hati manusia: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai…” Bukan sekadar kata-kata indah, melainkan cara hidup. Dalam doa itu, kasih tidak dipahami sebagai perasaan yang hangat saja, tetapi sebagai tindakan yang berani: menghadirkan pengampunan saat ada luka, membawa terang ketika orang lain tenggelam dalam kegelapan, dan menaburkan harapan ketika dunia terasa berat.


Kasih, dalam doa tersebut bergerak keluar dari diri sendiri. Fransiskus mengajarkan bahwa kasih sejati dimulai ketika seseorang berhenti menuntut untuk dipahami dan mulai berusaha memahami. Ia mengajak kita lebih memilih menghibur daripada mencari penghiburan. Ini adalah pembalikan cara berpikir yang sering kita pegang. Biasanya kita ingin diperhatikan, dihargai, atau didengarkan. Namun doa itu menuntun umat beriman untuk menjadi saluran kasih Allah bagi sesama.


Lewat beberapa suratnya kepada para saudaranya dalam Ordo Saudara Dina (Ordo Fratrum Minorum), Fransiskus berulang kali menekankan kerendahan hati, kesederhanaan, dan persaudaraan. Bagi Fransiskus, menjadi saudara berarti tidak hidup untuk diri sendiri, tetapi berjalan bersama dalam kasih. Ia bahkan mengingatkan para anggotanya agar tidak mencari kehormatan atau kekuasaan, melainkan menjadi kecil di hadapan Tuhan dan sesama.


Dalam salah satu pesannya, Fransiskus menegaskan bahwa para saudara harus saling mengasihi dan menjaga satu sama lain seperti keluarga. Ia juga menekankan pentingnya kesetiaan pada Injil: hidup miskin, sederhana, dan penuh belas kasih. Ini bukan sekadar aturan hidup religius, tetapi cara nyata untuk menghadirkan wajah Allah di tengah dunia.


Jika kita melihatnya dalam terang hukum kasih yang diajarkan oleh Yesus Kristus, kita menemukan akar yang sama. Yesus merangkum seluruh hukum dalam dua hal: mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Fransiskus tidak menciptakan ajaran baru; ia hanya menghidupi Injil secara radikal. Doanya menjadi semacam ringkasan praktis dari hukum kasih itu.


Kasih menurut Yesus bukan teori, melainkan tindakan nyata: memberi makan yang lapar, mengunjungi yang sakit, mengampuni yang bersalah, dan menyapa mereka yang sering diabaikan. Dalam hidup Fransiskus, hal itu terlihat jelas. Ia mendekati orang miskin, merangkul mereka yang tersisih, bahkan berdamai dengan alam ciptaan sebagai saudara.


Dalam kehidupan umat paroki saat ini, doa St. Fransiskus Asisi tetap relevan. Di tengah perbedaan pendapat, kesibukan, bahkan konflik kecil dalam Gereja, Komunitas ataupun keluarga, kita dipanggil menjadi pembawa damai. Kasih yang sejati sering kali dimulai dari hal kecil: mendengar dengan sabar, menahan kata-kata yang melukai, atau membantu tanpa menunggu diminta.


Mungkin itulah pesan sederhana dari doa Fransiskus bagi kita. Kasih tidak selalu tampak besar dan heroik. Ia sering hadir dalam pilihan-pilihan kecil setiap hari. Namun justru di situlah Injil hidup. Ketika kita memilih mengasihi lebih dahulu, kita sedang ikut menjalankan hukum kasih yang ditanamkan Yesus – dan dunia, sedikit demi sedikit, menjadi lebih terang.


Terakhir, mari kita berdoa bersama:

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai-Mu.

Bila terjadi kebencian, Jadikanlah aku pembawa cinta kasih;

Bila terjadi penghinaan, Jadikanlah aku pembawa pengampunan;

Bila terjadi perselisihan, Jadikanlah aku pembawa kerukunan;

Bila terjadi kebimbangan, Jadikanlah aku pembawa kepastian;

Bila terjadi kesesatan, Jadikanlah aku pembawa kebenaran;

Bila terjadi kecemasan, Jadikanlah aku pembawa harapan;

Bila terjadi kesedihan, Jadikanlah aku pembawa kegembiraan;

Bila terjadi kegelapan, Jadikanlah aku pembawa terang.

Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai.

Sebab dengan memberi, aku menerima; dengan mengampuni, aku diampuni;dengan mati suci aku bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya.Amin.


Penulis: Yulius Haryanto Seran

Komentar


Managed by

logo_komsos_copy.png
bottom of page