Cerita: Jembatan Menemukan Allah

Diperbarui: 25 Feb

Cerita Tentang Allah di tengah Pandemi Covid-19


Ilustrasi: www.pixabay.com

Tahun ini, Paus Fransiskus mengangkat tema “cerita” untuk Hari Komunikasi sedunia. Cerita merupakan salah satu cara untuk mengajarkan iman kepada anak dan cucu. Iman kita pun terbentuk karena cerita-cerita dalam Kitab Suci. Lewat cerita, iman disalurkan dan ditumbuhkan. Lewat cerita, kita memiliki imajinasi iman yang bisa kita jalankan dalam hidup sehari-hari. Lewat cerita, iman menjadi tumbuh lebih personal bagi setiap pribadi. Namun, Paus Fransiskus juga mengatakan bahwa tidak semua cerita itu baik. Salah satunya adalah bagaimana menceritakan tentang Allah di tengah pendemi covid-19 yang mengerikan ini? Apa cerita tentang Allah yang akan kita sampaikan pada keluarga, anak dan cucu kita?


Situasi pandemi covid-19 telah membuat setiap manusia berada dalam situasi yang mengerikan. Bukan saja soal mereka yang sakit dan meninggal, tetapi juga dampak yang terjadi dalam setiap segi kehidupan manusia. Siapa yang tidak cemas? Harta kini tidak lebih berharga daripada kehidupan, apalagi orang-orang miskin yang bergantung hidupnya secara harian. Kematian yang kadang menjadi kesempatan perpisahan terakhir kini tidak bisa dirayakan, seakan-akan orang mati meninggal dalam kesendirian dan tanpa perpisahan. Dengan kata lain, manusia kini bercermin dengan dirinya sendiri, berjuang dan bertahan untuk dirinya sendiri. Sementara kita tidak pernah tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Lalu, bagaiaman kita akan menceritakan Allah kepada keluarga, anak dan cucu kita, seakan-akan Allah tidak peduli?


“Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” adalah teriakan para murid ketika perahu mereka mengalami badai sementara Yesus sedang tidur. Yesus bangun, menghardik badai dan menasehati para murid (Mrk 4: 35-41). Yesus tetap peduli dan kepedulian itu sangat mendalam, lebih dari yang dibayangkan para murid. Para murid berpikir tentang diri mereka, berharap Yesus meredakan badai saja. Tetapi, Yesus melakukan lebih yaitu setelah menghardik, Ia berbicara, menegur, menasehati, meneguhkan para murid. Artinya, wajah Allah yang diharapkan para murid berubah dengan wajah Allah yang ditampilkan Yesus Kristus. Kepedulian Allah tidak sebatas memenuhi keinginan manusia tetapi memenuhi kerinduan terdalam hati manusia.


Fakta bahwa covid-19 telah menelan banyak korban adalah fakta yang mengerikan. Sekali lagi, ini bukan hanya soal hidup dan mati melainkan juga soal keseluruhan hidup manusia. Membayangkan jutaan orang meninggal, terjepit dalam kemiskinan, mereka yang putus asa, khawatir dan tertekan pasti akan membuat kita sangat sedih. Namun, di balik itu semua, sisi-sisi kemanusiaan yang selama ini tertidur mulai bangkit. Katakanlah solidaritas, gotong royong, empati, pengorbanan diri, kepedulian, belarasa, penguasaan diri, dll, mulai menyingsing dalam hati manusia. Dari mana semua nilai kemanusiaan itu berasal kalau Tuhan tidak menghendaki? Allah menampilkan wajah-Nya yang lain. Ketika kita semua berharap Tuhan menyembuhkan fisik, Dia melakukan lebih dengan menyembuhkan sisi terdalam hati manusia.


Kini, kita punya banyak waktu untuk berada bersama keluarga. Selain menjaga kesehatan diri dan keluarga, ini adalah kesempatan untuk memulihkan diri dan relasi keluarga. Yang selama ini tidak punya waktu keluarga, sekilas saja memberi perhatian, dan berkonflik dengan pasangan, ini adalah waktu pemulihan itu. Mulai dengan membuka komunikasi dengan bercerita. Ceritakanlah tentang diri Anda, keseharian, pekerjaan, kegelisahan, harapan. Ceritakanlah hal-hal yang selama ini tidak pernah Anda ceritakan. Ceritakanlah tentang Allah yang Anda imani kepada anak dan cucu. Kapan lagi kita punya waktu untuk bercerita? Ketika orang mempertanyakan di mana Allah di tengah pandemi covid-19 ini, jadilah Alter Christus dengan bercerita. Dalam cerita itu, Allah akan ditemukan secara lebih mendalam dan personal.





-RD Ambrosius Lolong