top of page

Workshop Ecoenzym dan Kompos Takakura

  • 16 Mei
  • 3 menit membaca
ecoenzym

Menjawab seruan ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus untuk peduli terhadap Bumi sebagai Rumah Kita Bersama, sekaligus merefleksikan Tahun Keutuhan Ciptaan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) 2026, Paroki Cilangkap mengambil langkah konkret.


Pada Sabtu, 16 Mei 2026, bertempat di Aula Budi Murni, Cipayung, diselenggarakan sebuah Workshop Ecoenzym dan Kompos Takakura bertemakan "Memulihkan Keutuhan Ciptaan, Merawat Harapan Masa Depan". Acara yang merupakan kolaborasi antara Seksi Lingkungan Hidup dan Seksi Pelatihan dan Pengkaderan Paroki Cilangkap ini berfokus pada pengelolaan sampah organik mandiri melalui pembuatan Eco Enzym dan Kompos Takakura.


Pagi hari dimulai pukul 08.30 WIB dengan antusiasme para peserta yang memenuhi meja registrasi. Tepat pukul 09.00 WIB, alunan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Ardas (Arah Dasar KAJ) menggema di dalam aula, membakar semangat nasionalisme dan spiritualitas Katolik yang berakar pada pelayanan.


Setelah doa pembuka, suasana hangat menyelimuti aula saat kata sambutan disampaikan.


"Aksi ekologis bukan lagi sekadar pilihan, melainkan perwujudan iman kita untuk menjaga ciptaan Tuhan yang kian merapuh," ujar Thomas Wibowo, Ketua Panitia sekaligus Ketua Seksi Lingkungan Hidup Paroki Cilangkap.


Senada dengan hal tersebut, Silvester Albert Tumbol selaku Wakil Ketua DPH Paroki Cilangkap memberikan pengantar sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara iman dan perbuatan nyata.


Kebersamaan ini diperkuat dengan penayangan video Instruksi Gubernur (Ingub) terkait pengelolaan sampah, memperlihatkan bahwa gerakan paroki berjalan beriringan dengan program pemerintah daerah. Sesi pembuka ini pun kemudian diabadikan dalam foto bersama yang penuh senyum optimisme.


Memasuki agenda inti, MC mengenalkan narasumber pertama, Yustina Ratna Esti Wulandari, seorang Dosen Program Studi Bioteknologi Fakultas Biosains Teknologi dan Inovasi Unika Atmajaya Jakarta. Selama 30 menit, Ratna memaparkan materi tentang Eco Enzym—cairan multiguna hasil fermentasi sampah organik dapur. Peserta mendengarkan dengan saksama bagaimana kulit buah dan sisa sayuran yang biasa dibuang begitu saja, dapat diubah menjadi pembersih alami yang ramah lingkungan.


workshop

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif pukul 10.05 WIB, di mana para peserta aktif berkonsultasi mengenai takaran dan kegagalan fermentasi. Tak sekadar teori, di luar aula Budi Murni berubah menjadi laboratorium hijau. Didampingi oleh Ratna, para peserta langsung mempraktikkan pembuatan Eco Enzym, mencampur air, gula, dan sisa organik dengan riang gembira.


Setelah rehat sejenak, giliran Anastasia Tatik Hartanti, narasumber kedua, yang merupakan Dosen Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Biosains Teknologi dan Inovasi Unika Atmajaya Jakarta ini memperkenalkan metode Komposting Takakura. Metode asal Jepang ini dinilai sangat cocok untuk masyarakat perkotaan karena tidak memerlukan lahan luas dan bebas bau.


Tatik mengupas tuntas cara kerja keranjang Takakura dalam mengurai sampah dapur menjadi pupuk kaya nutrisi.

Diskusi hangat kembali terjadi sebelum akhirnya seluruh peserta menjeda aktivitas untuk menikmati makan siang bersama dan berdoa.


workshop

Momen ini menjadi ruang persaudaraan di mana para peserta saling bertukar cerita tentang kondisi lingkungan di lingkungan/wilayah masing-masing.

Berbekal energi baru, peserta kembali mempraktikkan materi kedua di luar aula. Mereka belajar menyusun lapisan komposter Takakura, memastikan sirkulasi udara dan kelembapan yang tepat agar proses pembusukan berjalan sempurna.


Di sela-sela acara Romo Stevanus Harry Yudhanto selaku Romo Rekan Paroki Cilangkap berkesempatan hadir di lokasi workshop serta memberikan sapaan hangat kepada para peserta.


workshop

Sebagai pelengkap rantai edukasi, Pak Wiratno dari salah satu peserta workshop diberikan waktu dan kesempatan untuk membagikan kisah dalam membuat komposter secara mandiri di rumahnya. Pengalaman nyata ini membuka mata para peserta bahwa gaya hidup nihil sampah (zero waste) sangat mungkin diterapkan dalam skala rumah tangga tanpa merepotkan dan dimungkinkan untuk membuatnya sendiri.


Rangkaian acara yang padat dan penuh inspirasi ini akhirnya ditutup pada pukul 14.45 WIB dengan penyerahan sertifikat penghargaan kepada para narasumber sebagai bentuk apresiasi. Doa penutup yang syahdu mengakhiri seluruh kegiatan pada pukul 15.00 WIB.


Melalui workshop ini, Paroki Cilangkap tidak hanya berbagi ilmu, tetapi sedang menyemaikan benih-benih harapan. Setiap tetes Eco Enzym dan setiap genggam kompos Takakura yang dihasilkan adalah wujud pertobatan ekologis yang nyata—sebuah langkah kecil namun pasti demi memulihkan keutuhan ciptaan dan merawat masa depan bumi yang lebih hijau.


Penulis: Benny Widjadjanto


workshop

Komentar


Managed by

logo_komsos_copy.png
bottom of page