Temu Prodiakon Ke-65 Dekenat Timur
- 10 jam yang lalu
- 4 menit membaca

Semangat pelayanan dan persaudaraan kembali berkobar di wilayah Dekenat Timur Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Paroki Cilangkap sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan Temu Prodiakon (TePro) Dekenat Timur ke-65. Acara ini berlangsung khidmat di Aula Gereja Santo Yohanes Maria Vianney pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Mengangkat tema “Bunda Maria: Teladan dan Inspirasi dalam Pertobatan Ekologis”, forum ini dihadiri oleh ratusan prodiakon dari 10 paroki di wilayah Dekenat Timur. Mereka berkumpul untuk saling berefleksi, mempererat tali persaudaraan, sekaligus memperdalam bekal spiritual dalam pelayanan.
Rangkaian acara dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan registrasi peserta. Antusiasme para pelayan altar ini terlihat dari kehadiran yang tepat waktu. Pukul 07.45 WIB, acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi (Misa Kudus) yang dipimpin oleh Romo Kepala Paroki Cilangkap, RD Vinsensius Rosihan Arifin. Perayaan ekaristi berlangsung syahdu dan semarak diiringi paduan suara dari Prodiakon Cilangkap.

Usai misa, kebersamaan berlanjut di area basement. Sambil menikmati welcome drink yang disiapkan panitia, para peserta bercengkerama hangat sebelum bergegas menuju aula utama.
Agenda di aula dibuka secara resmi dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Prodiakon.
Momentum ini diperkuat melalui serangkaian sambutan hangat dari:
• Paulus Windraji (Ketua Pelaksana)
• Julius Iwan (Ketua Forum Komunikasi Prodiakon Dekenat/FKPD Timur)
• RD Albertus Monang Rianto Sidabutar (Romo Moderator FKPD Timur)
Dalam pesannya, Romo Monang menggarisbawahi bahwa esensi dari forum komunikasi adalah perjumpaan tatap muka yang saling menguatkan.
"Pelayanan prodiakon tidak terbatas saat memakai alba di sekitar altar saja, melainkan harus melekat dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Pembahasan prodiakon kini harus meluas ke arah kepedulian terhadap bumi, selaras dengan Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Agung Jakarta," tegas Romo Monang.

TePro ke-65 Dekenat Timur ini menghadirkan pembekalan komprehensif yang dibagi ke dalam dua sesi utama. Sesi pertama dengan tema "Refleksi Iman dan Aksi Nyata untuk Alam Ciptaan" dibawakan langsung oleh RD Albertus Monang Rianto Sidabutar yang mengupas tuntas keterkaitan antara tugas prodiakon dan keutuhan alam ciptaan. Pada sesi ini, beberapa perwakilan paroki membagikan (sharing) pengalaman aksi ekologis nyata yang sudah berjalan di wilayah mereka, seperti di antaranya:
• Gerakan Penghijauan Rumah: Pembagian bibit cabai untuk ditanam umat di rumah masing-masing.
• Pemanfaatan Lahan: Kewajiban mengolah lahan kosong menjadi area tanaman produktif/hidup dan pembuatan cairan ekoenzim.
• Kemandirian Kelola Sampah: Penerapan kebijakan meniadakan tempat sampah di area gereja. Umat wajib membawa pulang kembali sampah pribadinya (seperti tisu atau plastik) demi membangun kesadaran personal.

Romo Monang juga memaparkan hasil survei kecil terhadap 82 responden prodiakon untuk mengukur kesadaran iman ekologis mereka. Hasilnya sangat positif:
• 77% responden menyatakan bahwa merawat bumi adalah perwujudan dari iman.
• 83% memahami bumi sebagai rumah bersama (Laudato Si’).
Survei ini menyimpulkan bahwa mayoritas prodiakon memiliki kesadaran tinggi bahwa menjaga alam adalah bagian integral dari panggilan iman mereka. Namun, Romo Monang mengingatkan adanya tantangan besar di lapangan, yaitu konsistensi edukasi agar umat tidak lagi meninggalkan sampah kecil (seperti tisu, plastik mika, atau bungkus permen) di bangku gereja setelah ibadah selesai.
Sesi II bertemakan "Edukasi Praktis Pengelolaan Sampah dan Ekoenzim" berfokus pada edukasi praktis pengelolaan sampah rumah tangga demi mewujudkan pertobatan ekologis.
Tiga narasumber ahli dihadirkan dalam sesi ini, yaitu Adib Awaludin dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, RB. Sutarno - seorang pegiat Lingkungan Hidup & Peraih Kalpataru dan Suster Irene Handayani, OSU dari Komunitas Laudato Si Indonesia Chapter Jakarta.
Adib memaparkan regulasi penanganan sampah berdasarkan UU No. 18 Tahun 2008, yang mengamanatkan bahwa setiap individu wajib mengurangi dan menangani sampah sejak dari sumbernya (rumah tangga). Ia menegaskan bahwa membakar atau membuang sampah sembarangan adalah tindakan ilegal yang memiliki sanksi hukum.

Adib berharap prodiakon bisa menjadi agen perubahan (multilevel marketing kebaikan) untuk mengubah mindset keluarga dan tetangga. Menurutnya, sampah yang dicampur akan menjadi masalah, tetapi jika dipilah, sampah akan berubah menjadi barang berharga. Sesuai aturan, pemilahan dibagi menjadi 4 kategori:
• Organik: Mudah terurai.
• Anorganik: Material daur ulang.
• B3 (Bahan Beracun Berbahaya): Kaleng gas, obat kedaluwarsa, lampu, dll.
• Residu: Sisa akhir yang benar-benar tidak bisa diolah lagi.
RB. Sutarno menjelaskan bahwa tahun ini dicanangkan gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah). Kebijakan per 1 Agustus 2026 menetapkan bahwa TPA tidak lagi menerima sampah organik. Langkah ini didukung penuh oleh Surat Gembala Bapak Uskup KAJ yang mewajibkan keluarga Katolik memilah sampah dan menanam pohon. Sutarno juga membagikan metode praktis pengolahan sampah organik yang bernilai ekonomis bagi keluarga, seperti Ember Komposter, Loseda (Lodong Sisa Dapur), dan Budidaya Maggot.

Suster Irene Handayani, OSU dari Komunitas Laudato Si Indonesia Chapter Jakarta secara khusus mempraktikkan rumus pembuatan ekoenzim. Cairan multiguna hasil fermentasi sampah organik ini bisa dimanfaatkan sebagai pembersih lantai (sehingga gereja/rumah hemat tanpa sabun kimia), sabun cuci piring/baju minim busa, pembersih udara di mobil, hingga sampo organik. Dalam refleksinya, Suster Irene mengingatkan kembali gerakan Laudato Si’ yang diinisiasi Paus Fransiskus sejak 10 tahun lalu. Ia mengajak para prodiakon untuk membumikan gerakan ini secara nyata di paroki masing-masing, bukan sekadar menjadi wacana di meja rapat.

Acara TePro ke-65 Dekenat Timur ini kemudian berlanjut dengan serah terima plakat pelaksana TePro. Panitia Paroki Cilangkap (TePro 65) secara resmi menyerahkan mandat kepanitiaan berikutnya kepada perwakilan Paroki Cijantung yang akan bertindak sebagai tuan rumah Temu Prodiakon ke-66 mendatang.
Rangkaian acara ditutup dengan doa makan, doa penutup, dan sesi foto bersama per paroki. Seluruh peserta kemudian menikmati makan siang bersama di area basement yang penuh kehangatan persaudaraan, sebelum akhirnya berpamitan pulang sembari membawa goody bag istimewa dari panitia (sayonara) pada pukul 14.00 WIB.
Melalui pertemuan berkala ini, diharapkan para prodiakon di wilayah Dekenat Timur dapat terus memperbarui komitmen pelayanannya serta semakin solid dalam mendampingi gerak langkah Gereja yang peduli pada sesama dan semesta.
“Ubi caritas et amor, Deus ibi est.” (Di mana ada kasih dan cinta, di sana Tuhan hadir.)
Penulis: Benny Widjadjanto
Fotografer: Felix & Robert (Komsos)
Editor: Arya (Komsos)
GALERI FOTO TEPRO KE-65 DEKENAT TIMUR
























Komentar