Tri Hari Suci di Paroki Cilangkap



Mulai dari tgl 29 Maret – 1 April 2018, Perayaan Tri Hari Suci dan Minggu Paskah di Paroki Cilangkap berjalan dengan lancar dan hikmat. Seluruh Misa dan Ibadat dipimpin oleh Romo Rochadi dan Romo Angga, dibantu dengan Diakon Rossi, Fr.Andi, Fr.Beto, dan ditambah dengan kehadiran Fr. Lendra dan Fr. Septian yang merupakan putra Paroki Cilangkap. Umat yang hadir pun lebih banya dari pada biasanya dan selalu memenuhi area gereja hingga basement, ruang kelas, dan taman samping gereja.


Tri Hari Suci dimulai dengan Misa Kamis Putih untuk mengenang perjamuan malam terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Ada yang spesial pada upacara pembasuhan kaki malam itu. Romo membasuh kaki 12 umat terpilih, dan mereka adalah para karyawan Gereja Anak Domba, di antaranya ada petugas sekretariat paroki, pengurus rumah tangga dan petugas keamanan gereja yang berbeda agama. Hal seperti ini juga dilakukan pada Misa Kamis Putih tahun 2017 lalu. Lewat upacara pembasuhan kaki ini, kita diajarkan untuk selalu melayani dengan rendah hati tanpa membeda-bedakan sesama. Kemudian, Misa ditutup dengan perarakan Sakramen Mahakudus dan dilanjutkan dengan tuguran dan adorasi secara bergantian hingga tengah malam di Kapel Kapal St. Petrus.


Pada Jum’at paginya, pkl 08:00 diadakan tableau-drama kisah sengsara Yesus yang dibawakan oleh OMK wilayah II. Kemudian dilanjutkan dengan Ibadat Jum’at Agung yang  diadakan dua kali yaitu pada pkl 15.00 dan pkl 18.30. Ada yang berbeda pada Ibadat Jumat Agung kali ini. Setiap umat diminta untuk membawa Salib dari rumah masing-masing, minimal satu keluarga satu salib, untuk digunakan dalam upacara penghormatan salib. “Sebenarnya, penciuman salib itu hanya salah satu bentuk penghormatan salib. Dijelaskan dalam dokumen Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis, no.69, bahwa tidak ada keharusan mencium salib di gereja, melainkan penghormatan terhadap Salib. Ide dasarnya adalah agar salib yang kita hormati dibawa pulang dan kita hormati juga di rumah” Romo Angga menjelaskan.“Salib lebih dari hiasan rumah, Salib seharusnya menjadi pusat devosi keluarga” ujar Romo Rochadi menambahkan.


Misa Sabtu Suci penuh sesak seperti biasanya. Misa diadakan dua kali, yaitu pada pkl. 17.00 dan pkl. 21.30. Misa dimulai dengan upacara cahaya yang dimulai di depan pintu utama gereja. Pujian Paskah dinyanyikan dengan lilin menyala dari satu sumber cahaya yaitu Lilin Paskah, yang melambangkan Cahaya Kristus sendiri. Pada sabtu suci kali ini juga kita diajak untuk memperbaharui janji babtis kita. Misa berjalan dengan lancar dan penuh hikmat. Pada Misa ke-2, Romo Rochadi menyanyikan satu buah lagu “Hidup ini adalah kesempatan” sebelum berkat penutup dengan bermain saxophone dan diiringi gitar oleh Nelson Rumantir. Umat pun turut bernyanyi bersama. Misa ditutup dengan berkat Paskah dan umat saling memberi ucapan selamat Paskah sebelum meninggalkan gereja.


Misa Minggu Paskah diadakan dua kali, yaitu pada pkl.06.30 untuk dewasa dan pkl. 08.30 yang dkhususkan untuk anak-anak. Misa ke-2 berlangsung meriah seperti biasanya. Apalagi ditambah dengan kehadiran frater yang turut berinteraksi dengan anak-anak pada saat khotbah. Tidak hanya anak-anak, tetapi banyak juga orang dewasa yang hadir. Usai Misa, OMK wil-2 mengadakan acara dengan anak-anak dan ditutup dengan pembagian bingkisan Paskah.


Semoga kita selalu menghayati dan mengimani berkat Paskah dengan penuh syukur dan selalu mau melayani dengan rendah hati kepada siapa pun. Selamat Paskah. (Sefin)

copyright parokivianney.org

Managed by