Seminar Pilah Sampah Vianney
- 18 Apr
- 3 menit membaca

Dalam semangat Tahun Ardas KAJ 2026 yang menekankan tema keutuhan ciptaan, Paroki Cilangkap menyelenggarakan Seminar Pilah Sampah Vianney pada Sabtu, 18 April 2026 di Aula Budi Murni Cipayung. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Seksi Pelatihan dan Pengkaderan (Pekad) bersama Seksi Lingkungan Hidup (LH) Paroki Cilangkap dengan mengangkat tema “Sampah Menjadi Berkah: Pertobatan Ekologis dalam Aksi Mewujudkan Keutuhan Ciptaan dengan Sikap Peduli pada Sesama dan Alam Semesta.”
Peserta seminar didominasi oleh utusan lingkungan di wilayah Paroki Cilangkap, serta turut dihadiri oleh berbagai unsur eksternal paroki, antara lain Satpel LH Kecamatan Cipayung, Ibu-Ibu Dasawisma, GP Ansor, Pemuda Katolik, GPIB, dan tokoh masyarakat sekitar gereja. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bersama lintas komunitas dan lintas iman.
Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan dibuka oleh Romo Stevanus Harry Yudhanto, Pr yang memberikan pengantar mengenai Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Agung Jakarta Tahun 2026 sebagai tahun keutuhan ciptaan. Dalam sambutannya, Romo Harry mengajak seluruh peserta untuk melihat kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari panggilan iman.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua peserta yang merupakan utusan dari berbagai lingkungan yang berkenan hadir pada kegiatan yang sungguh positif ini. Mengacu pada Ardas KAJ, terlebih juga dengan semangat Laudato Si’, seluruh umat dipanggil untuk terlibat aktif dalam gerakan merawat bumi sebagai rumah bersama, salah satunya melalui kebiasaan memilah sampah dan mengolahnya kembali secara bertanggung jawab,” ujar Romo Harry.
Seminar menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di bidang lingkungan hidup, yakni RB Sutarno dan Kuspriyanto. Dalam paparannya, RB Sutarno menegaskan bahwa pertobatan ekologis bukan sekadar gagasan, melainkan ajakan untuk membangun kesadaran dan tindakan nyata dalam menjaga keutuhan ciptaan melalui kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Menurutnya, pertobatan ekologis diwujudkan melalui hidup sederhana, rendah hati, peduli lingkungan, serta membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama, dan alam.
“Bentuk aksi nyatanya dapat dilakukan melalui pengelolaan sampah, penghijauan, daur ulang, edukasi lingkungan, serta kolaborasi lintas keluarga, komunitas, Gereja, hingga pemerintah. Langkah-langkah ini akan mendorong terciptanya gaya hidup ramah lingkungan, masyarakat yang sehat dan gotong royong, serta lingkungan yang lestari dan berkelanjutan,” tegas Sutarno.
Sementara itu, Kuspriyanto membawakan materi mengenai biokonversi maggot, yakni metode pengolahan sampah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengurai sisa makanan dan bahan organik menjadi biomassa bernilai guna. Ia menjelaskan bahwa metode ini merupakan solusi strategis atas tingginya volume sampah organik di kawasan perkotaan, khususnya yang berasal dari rumah tangga dan pasar.

“Melalui sistem inti-plasma, penerapan biokonversi maggot dilakukan dengan kerja sama antara pemerintah atau instansi sebagai pusat pembiakan dan masyarakat di tingkat RW sebagai pengelola pengolahan sampah organik,” jelas Kuspriyanto.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa maggot mampu mengurai sampah organik dengan sangat cepat, bahkan beberapa kali berat tubuhnya dalam sehari. Selain mengurangi volume sampah secara signifikan, hasil biokonversi juga memiliki nilai ekonomis karena dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak, pupuk, dan berbagai produk turunan lainnya. Dengan kebutuhan lahan yang relatif kecil, biaya operasional rendah, serta minim pencemaran bila dikelola dengan baik, budidaya maggot dinilai sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang efektif, ekonomis, dan berkelanjutan.
Menambah kekayaan diskusi, Christina Saptarini dan Beny Widjajanto turut membagikan testimoni mengenai pengalaman mereka dalam berbudidaya maggot. Keduanya menekankan bahwa keberhasilan budidaya maggot sangat bergantung pada pemahaman yang baik mengenai siklus hidup maggot. Dengan memahami proses pertumbuhan dan karakteristiknya secara menyeluruh, pelaku budidaya akan lebih mudah menghadapi berbagai tantangan teknis di lapangan.

Selaku Ketua Seksi Pekad sekaligus Ketua Panitia Seminar, Adrianus Dwitjahjo menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak berhenti pada penambahan pengetahuan semata, tetapi berlanjut menjadi gerakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Senada dengan itu, Ketua Seksi LH Thomas Wibowo menegaskan bahwa Seminar Pilah Sampah Vianney menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui edukasi, kolaborasi, dan aksi bersama. Dari sesuatu yang selama ini dipandang sebagai masalah, umat diajak melihat bahwa melalui pengelolaan yang tepat, sampah dapat menjadi berkah bagi sesama dan bagi kelestarian ciptaan.
Acara berlangsung secara interaktif dengan sesi tanya jawab yang hidup dan antusiasme peserta yang tinggi sepanjang kegiatan. Seminar ditutup pada pukul 15.00 WIB dengan semangat bersama untuk membawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga komitmen baru dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.
Seminar ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas segelintir orang, melainkan panggilan bersama. Dari langkah sederhana seperti memilah sampah di rumah, umat diajak memulai pertobatan ekologis yang nyata—karena ketika manusia belajar merawat ciptaan, sesungguhnya ia sedang merawat anugerah Tuhan bagi generasi kini dan mendatang.
Penulis: Beny Widjajanto






Komentar