top of page

Rumah Bagi Tamu Ilahi: Paroki Cilangkap Resmikan Gedung St. Filomena di Usia ke-28

9 Agu
4 menit membaca

Suasana penuh syukur dan rasa haru melingkupi Gereja St. Yohanes Maria Vianney, Paroki Cilangkap pada tanggal 9 Agustus 2026. Romo dan Umat Paroki masih berbahagia atas pesta ulang tahun berdirinya Paroki Cilangkap dan pesta Santo pelindung (St Yohanes Maria Vianney) yang jatuh pada tanggal 4 Agustus 2026. Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Paroki ini menjadi kian bermakna dengan diresmikan dan diberkatinya Aula serta Pastoran St. Filomena oleh Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo. Pembangunan fasilitas pastoral yang telah lama dirindukan umat Cilangkap tersebut kini resmi menjadi sarana baru untuk bertumbuh dan mekar dalam pelayanan.

Ā 

Rangkaian acara diawali dengan ibadat pemberkatan gedung St Filomena. Kardinal Suharyo memerciki tiap ruangan aula dan pastoran dengan air suci serta memberkati salib-salib penyerta, kemudian menyerahkan seluruh fungsi bangunan ini agar menjadi sarana pelayanan yang membawa damai sejahtera bagi siapa saja yang mengunjunginya. Perayaan kemudian dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi Konselebrasi yang meriah.


Ā 

Bukan Sekadar Fisik, tapi Soal "Roh" Pelayanan

Dalam kotbahnya pada saat misa, Kardinal Suharyo mengajak umat untuk merefleksikan kembali dasar mendasar dari pembangunan sarana fisik gereja. Mengutip perumpamaan Injil Matius tentang orang bijaksana yang mendirikan rumah di atas batu, beliau menggarisbawahi bahwa kemegahan gedung pastoran dan aula tidak akan berarti jika tidak memiliki "roh" di dalamnya.

"Batu seperti apakah yang mestinya menjadi dasar agar rumah ini tidak roboh? Tentu dalam arti kiasan. Saya yakin rumah ini akan mempunyai roh kalau yang tinggal di dalamnya serta seluruh umat memilikiĀ hospitalitasĀ (keramah-tamahan) yang tinggi," tutur Kardinal Suharyo.

Ā 

Kardinal Suharyo membagikan pengalamannya saat menghadiri pertemuan para uskup se-Asia. Keramah-tamahan panitia Katolik di Indonesia meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta internasional.Ā HospitalitasĀ inilah yang hendaknya dihidupi di Paroki Cilangkap. Menurut beliau, setiap tamu yang mengetuk pintu pastoran, siapa pun mereka dan dari mana pun asalnya, hendaknya diterima bukan sebagai beban, melainkan sebagai "Tamu Ilahi" yang hadir membawa berkat Allah.


Ā 

Tujuan Paroki: Bertumbuh Menuju Kesempurnaan Kasih

Kardinal Suharyo juga melempar pertanyaan reflektif kepada umat yang hadir:Ā Untuk apa sebenarnya paroki didirikan dan sarana fisik dibangun? Jawabannya bukan berhenti pada kemegahan fasilitas atau sekadar memberikan Pelayanan Pastoral yang nyaman.

"Pembangunan gereja dan pastoran diusahakan dengan perjuangan sungguh-sungguh agar umat mendapat pelayanan yang lebih baik. Namun pelayanan itu sendiri bertujuan agar kita semua, baik yang melayani maupun yang dilayani, bertumbuh di dalam iman dan menjadi semakin serupa dengan Kristus," tegasnya.

Ā 

Mengulas Injil tentang Yesus yang berjalan di atas air dan menyelamatkan Petrus yang bimbang, Kardinal Suharyo menjelaskan figur Kristus yang tidak tergiur oleh kuasa duniawi. Setelah mukjizat penggandaan roti, Yesus menolak dijadikan raja oleh orang banyak dan memilih mengasingkan diri ke bukit untuk berdoa. Yesus setia pada perutusan Bapa: mewahyukan dan mencurahkan belas kasih Allah secara total hingga tuntas di kayu salib.


Ā 

Belajar Kasih dari Wisdom Lokal Borobudur

Salah satu bagian yang paling berkesan dari kotbah Kardinal Suharyo adalah ketika beliau mengaitkan ajaran Injil dengan kearifan lokal Nusantara melalui cerita relief Candi Borobudur. Beliau mengisahkan perumpamaan empat ekor binatang: kera, berang-berang, serigala, dan kelinci yang bertemu dengan seorang peziarah tua yang kelaparan. Kera memberikan pisang, berang-berang menyerahkan ikan, dan serigala menyodorkan susu. Namun kelinci, yang tidak memiliki kekayaan apa-apa untuk diberikan, secara tulus menawarkan dirinya sendiri untuk dikorbankan demi menyambung hidup peziarah tersebut.


"Ini adalah gambaran kearifan leluhur kita tentang kesadaran peziarahan menuju kesempurnaan kasih. Dan kita sebagai orang beriman memiliki teladan sejati yang bukan sekadar dongeng, yaitu Yesus Kristus, yang mencurahkan kasih-Nya sampai sehabis-habisnya," ujar Kardinal.

Ā 


Ikatan Spiritual St Filomena dan St Yohanes Maria Vianney

Pemilihan namaĀ Santa FilomenaĀ sendiri sebagai nama gedung aula dan pastoran baru Paroki Cilangkap didasari oleh alasan spiritual dan historis. Alasan pertama, St Filomena diyakini memiliki ikatan spiritual yang kuat dengan St Yohanes Maria Vianney. Ia adalah pelindung, perantara doa, dan sosok yang sangat dihormati oleh Santo Yohanes Maria Vianney (Pelindung Paroki Cilangkap). Pastor Paroki Ars tersebut kerap melimpahkan berbagai mukjizat dan jawaban doa kepada perantaraan Santa Filomena, sehingga kehadiran nama St. Filomena seakan untuk mempertegas keharmonisan spiritual dalam karya pelayanan di Paroki Cilangkap.

Ā 

Alasan kedua adalah simbol iman, keteguhan, dan harapan. St. Filomena dikenal sebagai Santa Perawan dan Martir yang melambangkan keteguhan iman, kesucian, serta pengharapan yang tak tergoyahkan. Maka penamaan ini diharapkan menjadi pengingat dan sumber inspirasi bagi seluruh umat Paroki Cilangkap agar gedung aula dan pastoran tersebut menjadi wadah persekutuan yang memperkuat iman dan persaudaraan sesama umat.


Ā 

Pesta Sukacita: Pemotongan Tumpeng, Seni, dan Selebrasi Juara

Usai perayaan Ekaristi yang khidmat, rangkaian acara beralih ke sesi ramah tamah yang dipusatkan di ruangan aula baru St. Filomena. Gelak tawa dan kehangatan persaudaraan antarumat melingkupi seluruh ruangan, mencerminkan persisĀ roh hospitalitasĀ yang diwartakan oleh Bapak Uskup.

Ā 

Momen puncak ramah tamah ditandai denganĀ pemotongan tumpeng utamaĀ sebagai simbol ungkapan syukur atas perjalanan 28 tahun Paroki Cilangkap serta selesainya pembangunan pastoran dan aula. Potongan tumpeng pertama diserahkan secara simbolis oleh Pastor Paroki dan Dewan Paroki Harian kepada Kardinal Ignatius Suharyo diiringi tepuk tangan meriah dari seluruh umat yang hadir.

Ā 

Suasana semakin semarak dengan ditampilkannya berbagaiĀ pertunjukan seni dan hiburan musik. Penampilan tarian tradisional Nusantara yang dibawakan oleh umat dari Wilayah X memukau perhatian hadirin. Selang beberapa saat, panggung hiburan diramaikan juga oleh alunan musik dari grup musik yang memenangkan lomba band antarwilayah. Kemeriahan pesta perayaan ini ditutup dengan pengumuman yang paling ditunggu-tunggu, yakniĀ penyerahan hadiah bagi pemenang umum dari semua perlombaan dalam rangka HUT ke-28 Paroki Cilangkap, yaitu Wilayah X.

Ā 

Melangkah Bersama di Usia 28 Tahun

Di usia yang ke-28 ini, Paroki Cilangkap diajak untuk tidak berpuas diri hanya pada pencapaian fisik semata. Kehadiran Gedung St. Filomena menjadi pengingat bahwa setiap ruang, aula, dan sudut pelayanan di paroki ini harus memancarkan kasih Kristus yang rela berkorban dan bersiap menyambut sesama dengan tangan terbuka. Selamat Ulang Tahun ke-28 Paroki Cilangkap! Semoga gedung dan sarana yang baru diresmikan ini senantiasa menjadi tempat di mana iman dirawat, harapan diteguhkan, dan kasih Allah dicurahkan tanpa batas.


Penulis: Yulius Haryanto Seran

Komentar


Managed by

logo_komsos_copy.png
bottom of page