Menjadi Bijaksana Itu Pilihan


Ilustrasi Gambar: https://digest.bps.org.uk

KETIKA saya mendengar kata “hikmat”, apa yang teringat dalam pikiran saya secara sepintas adalah kisah mengenai kebijaksanaan Raja Salomo dalam mengambil keputusan bagi perkara dua wanita yang saling memperebutkan anak (Lih. 1 Raj 3: 16-28). Karena hikmat Allah yang menguasai hatinya, Raja Salomo dapat berperilaku adil dalam persoalan yang dihadapinya (bdk. 1 Raj 13:28).


Berpijak dari kisah Raja Salomo, kita dapat melontarkan sebuah pertanyaan mendasar yakni bagaimana bisa Raja Salomo mengambil keputusan yang bijaksana? Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat kita temukan pada perikop sebelumnya yang mengisahkan tentang doa Raja Salomo yang memohon hikmat dari Allah. “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat...” (Lih. 1 Raj 3: 1-15). Raja Salomo memohon kebijaksanaan dari Allah yang adalah sumber segala kebijaksanaan. Dengan demikian, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa hikmat atau kebijaksanaan yang hidup dalam diri Raja Salomo tidak lepas dari relasi personal yang intim dengan Allah.


Ada sebuah ungkapan indah yakni menjadi tua itu sebuah keniscayaan, tetapi menjadi bijaksana itu adalah pilihan. Saya percaya bahwa Tuhan terus menyampaikan hikmat-Nya dalam sejarah hidup manusia. Hikmat Allah itu senantiasa hadir dalam setiap pengalaman hidup manusia. Baik dalam pengalaman suka maupun duka, tersembunyi hikmat Allah yang sungguh berguna bagi hidup manusia. Persoalannya adalah di tengah kesibukkan dan mobilitas manusia modern pada zaman sekarang ini, kerap kali tiada lagi tercipta ruang bagi manusia untuk menjalin komunikasi dengan Allah.


Berbagai hal yang menarik yang ditawarkan dalam dunia digital, telah menarik manusia sedemikian rupa sehingga lupa mengisi waktu-waktu kosong untuk berdoa dan berdialog dengan Allah. Akibatnya, manusia kehilangan kemampuan untuk menangkap kehadiran Allah dalam setiap pengalaman hidupnya. Bahkan yang lebih ironis lagi adalah hati nurani yakni tempat dimana suara Allah terus-menerus berdengung dalam diri manusia, menjadi semakin tumpul sehingga manusia lebih mengutamakan kehendak dan kemampuan dirinya dari pada melibatkan Allah dalam setiap keputusan hidup yang akan diambilnya.


Kebijaksanaan berjalan bersama dengan waktu. Itu artinya, kebijaksanaan tidak dapat diraih secara instan. Menjadi bijaksana membutuhkan sebuah proses. Manusia perlu mengalami pengalaman jatuh bangun dalam hidupnya untuk belajar, mengerti, dan memahami realitas kehidupan ini. Setiap pengalaman hidup manusia itu seharusnya menuntun dan mengarahkan setiap orang menuju semakin bijaksana. Semuanya itu memang hanya mungkin terwujud ketika manusia memiliki keseimbangan untuk menghidupi habitus hidup rohani dalam rutinitas kesehariannya. Yesus Kristus adalah hikmat bagi kita. Ia adalah sumber kebijaksanaan sejati. Seluruh seri teladan hidupnya dapat kita temukan di dalam Kitab Suci. Oleh karena itu, baiklah bagi kita di awal tahun 2019 ini mengembangkan kemampuan dialogis kita dengan diri-Nya.


Baiklah dalam setiap tindakan ataupun perbuatan yang akan kita lakukan, kita menyempatkan beberapa detik untuk selalu bertanya kepada-Nya, “Tuhan Yesus, Engkau menghendaki aku memilih atau melakukan yang mana?”.


Selamat Tahun Baru 2019. Ingatlah sekali lagi ! Menjadi bijaksana itu PILIHAN.



RD Bonifasius Lumintang

copyright parokivianney.org

Managed by