Makna Rabu Abu


Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaska, yang menandai bahwa kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paska. Angka “40″ selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan. Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 34:28), demikian pula Nabi Elia (lih. 1 raj 19:8). Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (lih. Mat 4:2).

Asal Usul “Rabu Abu”

Pada Perjanjian Lama, abu digunakan sebagai lambang perkabungan, rasa penyesalan dan pertobatan umat manusia. Pada abad ke-5 SM, sesudah Yunus berseru agar orang-orang kembali kepada Tuhan dan melakukan pertobatan, Kota Niniwe kemudian memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung serta taja menyelubungi dirinya dengan kain kabung lalu duduk di atas abu.

Yesus juga telah menyinggung pemakaian abu yang ditujukan untuk kota yang menolak melakukan pertobatan dari dosa. Gereja Perdana juga menggunakan abu sebagai simbolis yang serupa. Sesudah abad pertengahan, gereja memakai abu sebagai tanda dimulainya masa pertobatan Pra-Paskah. Sebagai tanda kita sudah menyesali segala dosa yang telah diperbuat.

Pada perayaan Rabu Abu sekarang ini, abu berasal dari daun palma yang telah diberkati di hari Minggu Palma pada tahun sebelumnya yang dibakar.


Pantang dan Puasa

Pantang dan puasa harus dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung untuk memperingati sengsara serta wafat Tuhan Yesus. Pantang ini dilakukan oleh umat yang sudah berusia 14 tahun dan puasa dilakukan oleh umat yang sudah berusia 18 tahun sampai usia 60 tahun.

Puasa berarti hanya makan kenyang sekali dalam sehari dan waktunya dapat dipilih sendiri (saat makan pagi, siang, atau malam). Puasa memiliki arti memurnikan hati dan lebih memusatkan perhatian untuk berdoa dan juga merupakan bentuk dari persembahan sehigga puasa dapat disebut doa dengan tubuh, karena dengan menjalankan puasa, maka seseorang akan menata kembali tingkah laku dan segi rohani dalam hidupnya.

Pantang dilaksanakan sebagai bentuk pertobatan kita. Umat Katolik wajib berpantang pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat sampai Jumat Agung. Jadi hanya 7 hari selama masa Pra-Paskah.  Jika kita berpantang, pilihlah makanan/minuman yang paling kita sukai. Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar pantang garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi.

Pantang menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya. Sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Itu sebabnya puasa dalam Katolik selalu terlaksana dengan doa dan derma yang terwujud dalam APP (Aksi Puasa Pembangunan).

Hari Rabu Abu mengingatkan kita bahwa kita harus menyiapkan diri dengan menyadari kesalahan kita dan bertobat dengan berpantang dan berpuasa. Kita juga harus menyadari bahwa dunia ini hanyalah sementara dan Kerajaan Allah yang kekal akan menanti kita.

(Stella - Dari berbagai sumber)


copyright parokivianney.org

Managed by