Kaca Patri “Yesus Merentangkan Tangan”



Terlihat beragam ornamen indah menghiasi bangunan Gereja Anak Domba. Selain kubah Anak Domba Allah dan Corpus-nya yang menjadi keunikan gereja ini, ada pula kaca patri yang terpasang hampir di seluruh sisi dalam gereja. Bukan hanya menampilkan visualisasi 14 perhentian jalan salib saja, namun ada pula gambar menarik lain di antaranya gambar orang kudus, Bunda Maria, dan Yesus merentangkan tangan.

Kali ini kita akan mengulik tentang kaca patri bergambar Yesus sedang merentangkan tangan yang terletak di bagian belakang, koridor kiri gereja. Gambar kaca patri ini tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga memiliki makna yang dalam. Terlihat di gambarnya 34 nama lingkungan yang berada di Paroki Cilangkap (sebelum ada pemekaran lingkungan yang saat ini menjadi 37 lingkungan).

Konsep gambar Yesus merentangkan tangan pada kaca patri ini merupakan ide dari RD Rochadi Widagdo, Pastor Kepala Paroki Cilangkap. “Secara teologis bahwa gereja itu adalah tubuh mistik Kristus. Karya Kristus melalui orang-orang yang ada dalam persekutuan hidup, di mana persekutuan itu adalah gambaran Kristus sendiri yang menubuh di dalam diri para anggota lingkungan di paroki ini; bukan hanya persekutuan doa namun juga persekutuan hidup yang saling menghidupi, saling bergotong royong, saling mengasihi, saling mendoakan, saling peduli. Seperti anggota tubuh, tangan membantu yang lain, kaki membantu berjalan, dan seterusnya. Bukan hanya antar anggota saja, tetapi kepalanya adalah Yesus yang bangkit. Bahwa Yesus juga ikut merasakan apa yang terjadi dalam anggota.” Ucap Romo Rochadi menjelaskan makna dari gambar tersebut.

Kaca patri ini juga gambaran bahwa tubuh Kristus itu terdiri dari lingkungan-lingkungan dan dibangun oleh lingkungan-lingkungan, baik lingkungan di paroki maupun lingkungan di luar paroki. Sehingga Romo Rochadi ingin nama-nama lingkungan di paroki ini tertera pada gambar kaca patri Yesus merentangkan tangan.

Tujuan dari gambar kaca patri ini adalah agar umat ada rasa memiliki, bahwa gereja ini milik semua lingkungan, dan setiap lingkungan wajib bertanggung jawab untuk memelihara, merawat, dan mengembangkannya karena baik dan tidaknya gereja tergantung dari lingkungan itu sendiri. (Etha)