Evangeliarium



Saat mengikuti misa kita akan melihat buku besar berukuran kurang lebih 24 cm x 34 cm, berwarna merah, dan ada gambar salib di tengahnya. Buku ini adalah buku bacaan Injil yang dalam Bahasa Latin disebut Evangeliarium. Dalam buku ini memuat bacaan-bacaan Injil untuk hari Minggu dan hari raya tahun A, B, dan C.


Evangeliarium sendiri merupakan simbol kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi. Sebelum misa dimulai, Evangeliarium dapat diletakkan di altar dalam keadaan tertutup, kecuali jika buku tersebut dibawa dalam perarakan masuk. Dalam perarakan masuk Evangeliarium dibawa oleh Diakon dalam keadaan tertutup dan dengan cara sedikit diangkat, kemudian diletakkan di altar. Diakon pembawa Evangeliarium berjalan di depan atau di samping Imam. Setibanya di altar, Diakon pembawa Evangeliarium tidak ikut memberi penghormatan kepada altar, tetapi langsung menuju altar untuk meletakkan Evangeliarium. Jika tidak ada Diakon, Evangeliarium dapat juga dibawakan oleh Lektor.


Sebelum dibacakan, Evangeliarium didupai kemudian setelah membaca buku ini dicium. Arakan, mencium, dan mendupai merupakan tanda penghormatan kepada Kristus yang hadir di tengah umat-Nya. Keharuman dari dupa melambangkan pewahyuan Allah dan kehadiran keselamatan. Sedangkan, mencium melambangkan keakraban dengan Kitab Suci dan membungkuk di hadapan Kitab Suci melambangkan sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan yang Mahaagung.


Evangeliarium diterbitkan oleh KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) yang mulai diberlakukan secara resmi dalam perayaan Ekaristi di keuskupan seluruh Indonesia pada awal Pekan Suci, Minggu Palma, 17 April 2011 hingga saat ini. Pada bagian awal buku ini dijelaskan juga tata cara penggunaan buku Evangeliarium. (Etha/dari berbagai sumber)