Lilin Paskah



Penggunaan lilin dalam liturgi Gereja Katolik memiliki arti tersendiri. Lilin sebagai symbol terang, menjadi lambing kehadiran Tuhan Yesus yang adalah Sang Terang Dunia yang juga melambangkan pengorbanan serta kasih Kristus.


Tetapi pernahkah anda memperhatikan Lilin Paskah yang biasa diarak pada saat Upacara Cahaya di Misa Sabtu Suci? Lilin Paskah tidak seperti lilin yang pada umumnya kita gunakan dalam misa atau ibadah biasa. Lilin Paskah memiliki ukuran lebih tinggi yaitu berukuran 100-150 cm dan memiliki gambar khas di bagian tengahnya. Warna Lilin Paskah yang putih dan ukurannya yang tinggi melambangkan tiang api yang membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir.


Pada bagian tengahnya terdapat gambar salib yang di sekelilingnya terdapat empat digit angka yang menunjukan tahun saat ini (untuk tahun ini dituliskan angka 2018). Ini melambangkan Yesus Kristus adalah Tuhan atas waktu dan sejarah. Pada saat upacara cahaya, Imam menancapkan biji-biji dupa di tengah dan setiap ujung salib sebagai tanda dari 5 luka-luka Yesus. Selain itu terdapat pula huruf Yunani; “Alfa” di bagian atas dan “Omega” di bagian bawah, yang melambangkan Tuhan adalah awal dan akhir. Cahaya dari Lilin Paskah yang diedarkan ke seluruh umat ini, sebagai lambing saling berbagi terang kebangkitan Kristus dan cinta kasih Allah yang menyelamatkan.


Lilin Paskah juga digunakan untuk pemberkatan air suci atau baptis yang akan dipergunakan sepanjang tahun, dengan memasukan Lilin Paskah menyala ke dalam air hal ini menyimbolkan air menyatu dengan Sang Terang yaitu Yesus sendiri. Lilin Paskah akan ditempatkan di Altar selama 50 hari setelah hari Raya Paskah, atau hingga hari Pentakosta. (Komsos/Pasha)

copyright parokivianney.org

Managed by