Keluarga Sekolah Pertama Iman


Ilustrasi: superbookindonesia.com

Keluarga sudah seharusnya menjadi sekolah yang pertama untuk menanamkan nilai-nilai Kristiani. Sebagai pendidik utama dalam hal iman kepada anak-anak, orangtua hendaknya secara aktif terlibat dalam pendidikan anak-anaknya. Termasuk mengetahui apa yang sedang dipelajari anak-anaknya di sekolah, buku-buku yang mereka baca, bagaimana perilaku mereka di sekolah, siapa sahabat mereka, dan sebagainya. Sesibuk apa pun pekerjaan dan aktivitas orangtua, rasa-rasanya tugas dan tanggung jawab ini tidak dialihkan atau dipasrahkan kepada asisten rumah tangga atau orang lain yang dipercaya mengasuh ana-anak. Orangtua perlu memberi contoh nyata dan langsung kepada anak-anak mempraktikan imannya, berusaha untuk hidup kudus, dan menerapkan ajaran iman dalam keluarga, sehingga anak menyadari bahwa memang perilaku itulah yang benar dan baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Tidak sedikit orangtua yang berpikir, asalkan sudah mengirimkan anak-anak ke Bina Iman, maka tugas membina iman anak sudah selesai. Pemikiran ini sungguh keliru. Peran guru di sekolah, guru les, atau kakak Bina Iman hanya sebatas membantu. Pada akhirnya keterlibatan orangtua dalam proses kehidupan anak adalah yang utama. Tak mudah memang untuk memberikan contoh yang beriman kepada anak-anak, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Mulailah dengan cara yang sederhana: berdoa bersama, membacakan kisah kitab suci, mengajak anak untuk tertib selama misa kudus, dan tentu berperilakulah yang baik dan sesuai dengan ajaran Kristiani. Tak perlu takut memberi koreksi kepada anak ketika salah, namun caranya tetap mengutamakan kasih. Ketika ana-anak melihat orangtua mereka sebagai role model yang baik, mereka -baik secara sadar maupun tidak- akan meniru mau pun mengikuti perilaku orangtua mereka.



-Ignatius Dimmas-

copyright parokivianney.org

Managed by